Jejak Tsunami Mentawai

Posted on Desember 12, 2010

0



Liputan6.com, Padang: Tsunami datang tak lebih dari tujuh menit. Dan seketika, Mentawai luluh lantah. Tragedi itu menyebabkan lebih dari 500 jiwa meregang nyawa dan 20 orang lainnya hilang. Bukan cuma itu, hampir seribu rumah, sekolah, dan tempat ibadah hancur.

Sapuan gelombang dahsyat pada 26 Oktober silam, tepatnya sekitar pukul 21.30 WIB itu didahului gempa berkekuatan 7,2 sekala Richter (SR). Pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer dari permukaan laut. Lokasi tersebut berada 78 kilo meter di sebelah barat daya Pagai Selatan, Mentawai [baca: Gempa 7,2 Skala Richter Guncang Mentawai].

Gempa dan tsunami kerap menjadi perhatian peneliti. Terlebih, empat gugusan Kepulauan Mentawai, yakni Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Selatan menjadi bagian Sunda Megathrust, areal yang dikenal sebagai pusat desakan antara lempeng tektonik Indo-Australia dan lempeng-lempeng Eurasia. Sunda Megathrust menjadi salah satu garis patahan paling aktif di dunia.

Para ahli tsunami pun datang. Mereka dipecah menjadi dua kelompok yang bertugas mencari sebanyak mungkin fakta kebumian tentang bencana kilat yang menghancurkan Mentawai. Penelitian dilakukan di sepanjang bibir Pantai Asahan menuju Purorogat, lokasi permukiman yang terkena dampak cukup hebat.

Menurut Johan Koto, warga Purorogat, tsunami Mentawai datang sekitar lima sampai tujuh menit setelah gempa yang tidak begitu kuat. Penduduk yang tidak merasakan besar getaran, sebagian besar masih di rumah.

Hantaman air tsunami kerap meningalkan jejak. Sejauh ini, data dan fakta tsunami baru bisa diurai setelah amukan alam tersebut berlangsung. Belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa dan tsunami secara akurat.

Seorang ahli tsunami purba LIPI Dr Eko Julianto mencatat, gelombang tsunami Mentawai sangat cepat. Bencana itu datang dengan kecepatan 800 kilometer per jam di dalam laut. Hal itu menyebabkan gelombang air sudah mencapai daratan dalam hitungan menit dengan kecepatan sekitar 30-40 kilometer per jam.

Pertengahan tahun silam, peneliti Jepang dan Indonesia mengebor wilayah Pagai selatan. Pengeboran dilakukan untuk mengambil tulang terumbu karang. Struktur batuan sedimen dari kapur itu, tumbuh satu sentimeter setiap tahunnya. Dari setiap pertumbuhannya dapat dibaca pengaruh kejadian gempa ratusan tahun ke belakang.

Seperti dikatakan seismolog Universitas Hokaido Tsuyoshi Watanabe, “Dari terumbu karang kita dapat menganalisa kejadian gempa besar di masa lampau. Terumbu karang pada saat gempa sesaat berhenti berkembang. Maka kita dapat melihat dari pertumbuhan struktur tulang terumbu karang tersebut.”

Analisis dapat berlangsung tahunan dengan detil prediksi kejadian gempa dan tsunami. Peneliti menemui beberapa fakta. Batas luka dan ranting atau sampah di pohon menjadi indikator ketinggian gelombang tsunami. Dan di Mentawai, ketinggian tsunami mencapai sekitar lima sampai delapan meter.

Tsunami mentawai adalah jenis tsunami yang jarang terjad lantaran gempa tidak dirasakan kuat. Tapi menciptakan gelombang air pembunuh. Profesor Kenji Satake, Seimolog Universitas Tokyo berpendapat, kondisi geografis Indonesia sangat rawan bencana.

Sistem peringatan dini belum efektif untuk kepulauan terdepan. Maka dari itu, tsunami Mentawai sudah semestinya tidak sekadar menjadi peringatan, tapi sebuah pembelajaran panjang.(ASW/SHA)

Posted in: NEWS