PENDIDIKAN ILAHI

Posted on Desember 8, 2010

0



Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib KarromAllahu Wajhah, dari Rasulullah SAW bersabda :

“Tuhanku mendidikku, dan Dian mendidik adabku dengan baik.”

Hadist mulia ini melazimkan perwujudan hakikat dengan mengikuti jijak Nabi SAW. Barang siapa yang tergelincir dari adab tersebut akan terjerumus dalam hawa nafsunya. Siapa yang berpisah dengan adab tersebut ia tersesat dan menyimpang.


Maka denagn adab itulah kaum muqirribun menanjakkan hasratnya, rahasia-rahasia kaum ‘arifin memancar. Dan tidak ada arah benar dalam jalan ma’rifat Billa kecuali mengikuti jejak adab Nabi Muhammad SAW. Sedangkan semua tangganya adalah : Dzikir yang terus menerus. Anak-anakku, ingatlah kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala adalah meninggikan perkara, kemuliaan dan karunianua. Kemudian dzikir terbagi dalam bentuk lisan, rukun dan hakikatnya. Bagi sang pendzikir hendaknya :
• Tidak terfokus pada dzikirnya.
• Memiliki hikmah (cita) dan kehendak yang mulia.
• Mempunyai kecerdasan lembut dalam isyarat.
• Niat dan kehendaknya benar (Lilahi Ta’ala).
• Dalam berdzikir tidak bertujuan lain selain Allah Ta’ala.
• Dan tidak menempuh jalan lain selain menuju kepadaNya.

Karena wushul secara total itu dibawah RidhoNya, nukan yang lainNya. Sedangkan terhalang total itu karena sibuk pada yang lainNya.

Bagi orang yang berdzikir hendaknya mengingat Allah secara total dengan penuh pengagungan dan penghormatan. Bukan dengan asal-asalan apalagi dengan kealpaan, karena berdzikir yang tidak mengagungkan dan menghormatinya judtru menimbulkan hijab pada Allah, sebagai bentuk siksa atas sikap meniggalkan pengagungan dan penghormatan itu. Sebab menjaga kehormatan dan pengagungan padaNya itu lebih utama ketimbang dzikirnya.

Tak seorang hambapun yang berdzikir secara hakiki, melainkan akan lupa pada selain Allah Ta’ala. Allah sebagai ganti segalanya. Terkadang sang ‘arig ingin berdzikir, lantas memuncaklah gelombang pengagungan dan kharismaNya, hingga lisannya kelu, lalu jiwanya membumbung karena keagungan WahdaniyahNya, kemudian tampak padanya pancaran rindu dan cinta dari hijab kasih qalbu dan kelembutan, hingga hasratnya sampai pada permadani Uluhiyah dan hamparan medan Rububiyah, atas izin Allah Ta’ala.

Pada saat itulah terbuka dari segala hal selain Dia, atas keajaiban rahasiaNya dan kelembutan ciptaanNya, keparipurnaan kuasaNya dan pancaran cahaya-cahaya SuciNya. Pada saat itulah sang hamba tahu bahwa Allah SWT melakukan apapun yang dikehendakiNya, pada orang yang dikehendaki, bagi orang yang dikehendaki, kepada kehendakNya dan bagaimana kehendakNya, melalui Tangan anugerahNya, pemberian dan kehendakNya.

Tak ada yang menolak atas karuniaNya dan tidak ada yang menghalangi atas hukumNya, maka sang hamba akan sibuk denganNya, menjadi fana’ dibawah Baqa’Nya. Inilah makna dari salah satu kabar, bahwa Allah SWT berfirman dalam salah satu kitabNya, “Siapa yang mengingatKu dan tidak lupa padaKu, maka Kugerakkan hatinya untuk mencintaiKu, hingga ketika ia bicara karenaKu, dan ketika diam, ia diam karenaKu.”

Allah SWT berfirman :
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tntram dengan dzikir kepada Allah…”

Yahya bun Mu’adz ra berkata, “Dzikir itu lebih besar ketimbang syurga, karena dzikir itu adalah bagian Allah sedangkan syurga itu bagian hamba. Dalam dzikir ada ridho Allah, sedang dalam syurga ada ridho hamba.”

Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh, beliau kerkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tampak pada orang-orang yang berdzikir ketika berdzikir dan membaca Al Qur’an, hanya saja mereka tidak melihatNya. Karena Allah Maha Mulia (tidak bisa) dilihat (mata kepada), dan Maha Jelas dari ketersembunyian. Karena itu, menyendirilah kalian semua bersama Allah SWT, dan bermesralah dengn dzikrullah. Tak ada yang turun pada seorang hamba satupun, kecuali ada dalilnya dalam Kitabullah, berupa petunjuk danpenjelasan.”

Mesra dengan Allah SWT.
Abu Abdullah as-Nasaj ra mengatakan, “Sesunguhnya Allah SWT memiliki syurga di dunia, siapapun yang masuk akan aman. Sungguh indah dan sebaik-baik tempat kembali.”
Ditanya, “Syurga apakah itu?”
“Mesra bersama Allah SWT.” Jawabnya.

Dalam sebagian kitabnya Allah Ta’ala berfirman, “Wali-wali dan KekasihKu, bernikmat-nikmatlah kalian dengan mengingatKu, dan bersukacitalah denganKu. Akulah senikmat-nikmat Tuhan bagimu di dunia dan di akhirat.”

Abu Bakr al-Wasithy ditanya, “Apakah anda ingin makanan?”
“Ya,” jawabnya.
“Makanan apa?”
“Satu suapan dari dzikrullah, dengan kejernihan yaqin, dan diatas sajian ma’rifat, dengan tegukan air husnudzon dari wadah ridho Allah SWT.”

Diriwayatkan Allah SWT berfirman kepada Nabi Ibrahim as, “Tahukah kamu mengapa Aku jadikan dirimu sebagai Al-Khalil (sahabat dekat)?” “Tidak,” jawab Ibrahim as.
“Karena hatimu tak pernah lupa padaKu, dan dalam situasi apapun dirimu tak pernah melupakanKu…”
“Jika bukan karena Engkau memerintahkan kami berdzikir kepadaMua, siapakah yang berani mengingatMu? Karena keagungan dan kebesaranMu…?”
Sungguh mengherankan bagaimana orang yang berdzikir, hatinya masih ada dalam tubuhnya ketika mengingat keagunganMu!

Diriwayatkan, bahwa Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, sesungguhnya aAku tidak menerima sholat dan dzikir kecuali pada orang yang tunduk pada keagunganKu, hatinya terus menerus takut padaKu dan usianya dihabiskan untuk mengingatKu. Wahai Musa! Orang seperti itu, ibarat syurga firdaus di antara syurga, rasanya tak pernah berubah, daunnya tak pernah kering, maka Aku jadikan rasa takutnya sebagai rasa aman baginya, dan Kujadikan cahaya ketika dalam kegelapan, dan Aku ijabah sebelum berdoa, serta Aku beri sebelum meminta kepadaKu.”

Dalam suatu hadits disebutkan, Allah SWT berfirman, “Siapa yang sibuk dzikir padaKu jauh dari meminta padaKu, akan Aku beri sesuatu yang lebih utama disbanding yang Kuberikan mereka yang meminta padaKu.”

Nabi Isa as mengatakan, “Betapa bahagia orang yang berdzikir kepada Allah SWT, dan tidak mengingat kecuali hanya Allah SWT. Dan bbahagialah orang yang takut penuh cinta kepada Allah SWT, dan tidak takut kecuali hanya pada Allah SWT.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Ya’qub as ketika munajat, “Oh kasihan sekali Yusuf…” Maka Allah SWT menurunkan wahyu, “Sampai kapan kamu ingat Yusuf terus? Apakah Yusuf itu makhlukmua, atau rizkimu, atau yang memberimu kenabian? Maka demi kemuliaanKu, seandainya kamu mengingatKu, dan kamu sibuk mengingatKu dengan menepis ingatan yang lain, sungguh Aku bebaskan derita dalam dirimu seketika!”
Maka, Nabi Ya’qub tahu atas kesalahannya adlam mengingat dan menyebut Yusuf, lalu ia pun membungkam lisannya.

Rabi’ah al-Bashriyah ra mengatakan, “Betapa menakutkannya di saat ketika aku tidak mengingatMu!”

Nabi Musa as, suatu hari bermunajat :
“Ya Ikahi, benarkah Engkau dekat hingga aku munajat kepadaMua? Ataukah Engkau jauh hingga aku memanggilMu?”
“Aku senantiasa bersama orang yang mengingatKu, dekat dengan orang yang bersuka cita denganKu, lebih dekat disbanding urat nadi,” jawab Allah SWT.

Dzun Nuun al-Mishry ditanya, “Kapankah seorang hamba benar-benar sufistik dalam dzikrullah?” . “Manakala ia ma’rifat dengan Allah SWT, dan bebas dari selain Allah SWT.” Jawabnya.

Ali bin Abi Thalib – KarromAllahu Wajhah – menegaskan, “Dzikrullah itu makanan jiwa, memuji Allah itu minuman jiwa, dan malu pada Allah SWT itu pakaian jiwa. Tak ada yang lebih lezat ketimbang mengingaNya, dan tak ada yang lebih nikmat ketimbang bermesra denganNya.”

Dalam salah satu kitabNya, Allah SWT berfirman, “Siapa yang mengiingatKu dalam batinnya, maka Aku mengingatnya dalam diriKu, siapa yang mengingatKu di padang luas, Aku pun mengingatnya di padang luas, siapa yang mengingatku dengan segenap dirinya, maka Aku mengingatnya dengan segenapKu.”
Para makhluk pada menjerit pada iblis, sedangkan iblis menjerit karena orang-orang yang berdzikir, lalu beliau membaca ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa manakala bertemu dengan segolongan syetan (dengan godaannya), mereka berdzikir kepada Allah, dan ketika itu pula mereka memandang kesalahan-kesalahannya.” (Al-A’raaf 201)

Ibnu Abbas ra mengatakan, “Tak seorangpun dari orang beriman melainkan dalam dirinya ada syetan, apabila mengingat Allah syetan terpedaya, dan jika ia lupa dzikir maka syetan menggoda.” Dzikrullah adalah obat, penyakit manapun tidak akan mengancamnya. Sedangkan mengingat manusia itu penyakit, obat manapun tak akan menyembuhkannya.

Jadikan dzikir itu sebagai kiblat cita-citamu, dan penerang lampu dalam masjid fikiranmu. Ketahuillah bahwa hakikat sukacita nan mesra adalah mengingat sang Kekasih, yaitu melupakan lainNya.

Siapa yang aktif mengingat Allah SWT akan sirna selain Dia, lalu ia hangus dibawah kelembutan CiptaNya, seluruh dirinya habis dibawah Kemaha-indahan pertolonganNya, lalu tenggelam di lautan ingatan anugerahNya.

Manusia punya dua hari raya setahun
Sedang bagi penempuh seluruh hidupnya dari raya
Dzikir adalah kebiasaannya
Pujian adalah kesantaian jiwanya
Hati di alam kerajaan Ilahi Rabb
Sangat penuh suka cita.

Haalatu Ahlil Haqiqah Ma’Allah (Syekh Ahmad Ar-Rifa’y)
Alih Bahasa oleh : KH. Luqman Hakim MA.
sumber;http://rizkipra0204.blogspot.com/2010/02/pendidikan-ilahi.html

Posted in: Artikel Tasawuf