Sikap Anak Kepada Orang Tua Yang Masih Kafir (2/2)

Posted on November 29, 2010

0


Selanjutnya mengenai birrul walidain kepada orang tua yang masih kafir. Apakah boleh kita mendo’akan mereka? Apakah dibedakan orang kafir harbi (orang kafir yang sangat keras permusuhannya terhadap kaum muslimin) dengan yang bukan kafir harbi? Simak keterangannya berikut ini.

Timbul pertanyaan, “Bolehkah mendo’akan orang tua yang masih
kafir?” Jawabnya adalah, baik kafir harbi atau bukan kafir
harbi tidak diperbolehkan mendoakannya untuk memintakan ampun dan
kasih sayang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ketika keduanya masih
hidup maupun sudah meninggal. Dasarnya adalah surat At-Taubah
ayat 113
, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan
ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik
itu kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang
musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam”

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala supaya mengampuni dosa ibunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala
tidak mengabulkannya karena ibunya mati dalam keadaan kafir.
HREF=”#foot61″>3

Kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mati dalam keadaan
kafir
HREF=”#foot123″>4
Kalau ada yang bertanya, “Bukankah pada saat itu belum diutus
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?” Saat itu sudah
ada millah Ibrahim. Sedangkan kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam tidak masuk dalam millah Ibrahim sehingga keduanya masih
dalam keadaan kafir
HREF=”#foot78″>5

Nabi Ibrahim juga pernah memintakan ampun kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala untuk kedua orang tuanya yang masih kafir, karena pada waktu
itu Ibrahim belum tahu dan belum turun wahyu tentang adanya larangan
tersebut. Setelah turun wahyu, Ibrahim kemudian menahan diri. Kisah
ini bisa dilihat dalam surat At-Taubah ayat 114.

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya
tidak lain hanyalah karena janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya
itu maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh
Allah maka Ibrahim berlepas diri daripadanya, sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang yang sangat lembut hatinya dan lagi menyantun”

Jika orang tua masih kafir tetapi bukan kafir harbi, maka diperbolehkan
mendo’akan agar mereka diberikan hidayah. Dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi,
ayat yang ke-8 tadi merupakan dalil tentang tetapnya menyambung tali
silaturrahmi kepada orang tua yang masih kafir serta mendo’akan keduanya
agar mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang haq.

Walaupun tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat kepada orang tua
yang masih kafir tetapi masih diperbolehkan memintakan hidayah kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendakwahkannya jika bukan kafir harbi.

Jadi dakwah kepada orang tua yang masih kafir harus tetap dilakukan
dan dengan cara yang baik. Dapat kita lihat bagaimana dakwahnya Ibarahim
‘Alaihi Shalatu wa sallam kepada orang tuanya. Beliau mendakwahkan
dengan kata-kata yang lemah lembut.

Dakwah kepada orang tua yang masih kafir saja harus dilakukan dengan
kata-kata yang lemah lembut, terlebih lagi jika orang tuanya tidak
kafir tetapi masih suka melakukan bid’ah, harus didakwahkan dengan
kata-kata lebih lemah lembut lagi.

Sikap Nabi Ibrahim terhadap bapaknya yang kafir dapat dilihat dalam
surat Maryam ayat 41-48.

“Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab
Al-Qur’an, sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang
Nabi”

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku,
mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak
melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun juga”

“Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian
ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya
aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus”

“Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya
syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah”

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa
adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah”

Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai
Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah
aku buat waktu yang lama”

Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu
aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguhnya Dia sangat
baik kepadaku”

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau
seru selain Allah dan aku akan berdo’a kepada Rabb-ku mudah-mudahan
aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Rabb-ku.”
sumber:http://blog.vbaitullah.or.id/category/birrul-walidain/

Posted in: NEWS