Manfaat Sarang Semut

Posted on November 5, 2010

0


Manfaat Sarang Semut
Sejak dulu tanaman ini sudah dimanfaatkan oleh beberapa suku di pedalaman Kalimantan dan Papua sebagai obat. Biasanya diolah untuk mengatasi gangguan rematik dan asam urat.
Dari berbagai literatur, penelitian manfaat medis Sarang Semut memang sangat berkhasiat. Bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit secara alami dan aman tanpa menimbulkan efek samping.
Beberapa penyakit yang bisa disembuhkan adalah berbagai jenis kanker/tumor seperti: kanker otak, kanker payudara, kanker hidung, kanker lever, kanker paru, kanker usus, kanker rahim, kanker kulit, kanker prostat dan kanker darah (leukimia). Namun sarang semut belum terbukti mampu menyembuhkan kanker tenggorakan dan kanker rongga mulut.
Selain itu sarang semut juga efektif membantu penyembuhan berbagai macam penyakit gangguan jantung, ambien (wasir), rematik, stroke, maag, gangguan fungsi ginjal dan prostat, pegal linu, melancarkan ASI, melancarkan peredaran darah, bahkan memulihkan gairah seksual
Juga bermanfaat untuk penderita migren, mengingkatkan imunitas tubuh, dan mengobati penyakit Lever.
Pemanfaatan sebagai obat bisa dilakukan secara tradisonal maupun dalam bentuk ekstraksi dan obat olahan.
Manfaat pengobatan itu didapat dari kandungan senyawa yang terdapat dalam sarang semut. Seperti senyawa aktif antioksidan, flavonoida, glikosida, polifebol. Sarang semut juga terbukti mampu menghambat enzim xantin oksidan yang bisa memicu asam urat dan radikal bebas. (berbagai sumber)
Oleh: M.Ahkam Subroto
Ahli Peneliti Utama, LIPI, Cibinong Science Center. Lulus S1 Pertanian dari IPB (1987), gelar M.App.Sc. (1991) dan Ph.D (1995) bidang Bioteknologi diraih dari University of New South Wales, Sydney, Australia. Dosen Pascasarjana, Program Studi Teknik Pertanian, IPB

Desa Sentra Pembibitan Dai di Demak (2-Habis)

Desa Sentra Pembibitan Dai di Demak (2-Habis)
Dapat Berkah Syekh dari Hadramaut

MENGAPA dua desa di Mutih, Kecamatan Wedung, Demak dikenal sebagai desa santri dan ulama? Sekretaris Desa Mutih Kulon Naimul Huda menduga, banyaknya warga Mutih yang menjadi dai di luar daerah, tak lepas dari berkah Syekh Maulana Abdurrahman Albar.
Siapakah dia? Syekh dari Hadramaut Yaman itu dipercaya sebagai cikal bakal Desa Mutih. Sebuah kuburan tua yang terdapat di tengah persawahan desa tersebut dipercaya sebagai makam syekh tersebut. Makam itu dikenal penduduk setempat sebagai Burwatu (kubur watu). Dari kisah Syekh Maulana pulalah nama Mutih didapatkan.
KH Abdullah Manshur Sanusi, pengasuh Pesantren Darut Tauhid Alalawiyah Assanusiyah menceritakan, sang syekh hidup sezaman dengan Ratu Kalinyamat yang memerintah Jepara, sekitar abad ke-16. Diceritakan, Kalinyamat yang oleh penulis Portugis Diego de Conto disebut sebagai “Rainha de Jepara senhora pederose e rica” yakni Ratu Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa itu memiliki hobi berburu di hutan. Suatu ketika, syekh menemukan kijang milik Ratu Kalinyamat. Karenanya, sang ratu hendak memberikan hadiah kepada syekh. Ia pun mengutus para punggawanya untuk mendatangi syekh.”Tuwasana! (Berilah hadiah!),” sabda Ratu Kalinyamat, seperti disampaikan Kiai Manshur.
Rupanya, kata Kiai Manshur, pemimpin prajurit itu agak suda pangrungon. Ia salah mendengar dan menafsirkan perintah. Sependengarannya, ratu memerintahkan “Tewasana! (Bunuhlah!).” Maka, ia pun berangkat ke Demak dengan niat menghabisi Syekh Maulana. Misi sukses dilaksanakan, dan syekh pun tewas di tangan prajurit itu. Tapi, apa yang terjadi? Atas kehendak Allah, konon, darah yang mengalir dari diri syekh tidak berwarna merah seperti lazimnya, melainkan berwarna putih. Dari kisah itu muncullah nama Desa Mutih, yang dalam perkembangannya menjadi Mutih Wetan dan Mutih Kulon.
Makanya setiap habis panen, penduduk desa menggelar haul cikal bakal desa tersebut. Ali, putra KH Mansyur menceritakan, saat haul persawahan tersebut akan dipenuhi oleh ribuan peziarah. Pada umumnya, mereka berdatangan dari desa-desa sekitar Mutih Kulon. Namun, tak sedikit yang datang dari luar Demak, dan bahkan luar Jawa Tengah.
“Biasanya, para dai asal Mutih Kulon yang berdomisili di Jakarta akan pulang. Mereka mengajak serta habaib (keturunan Nabi Muhammad Saw-red) dari ibukota untuk menziarahi makam Syekh Maulana,” tutur dia.
Ilmu Agama
Cukupkah berkah yang konon diperoleh dari sang Syekh? Tentu saja tak cukup. Kesadaran warga Mutih untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu agama yang memadai juga sangat tinggi.
“Bekal minimal yang mesti dimiliki oleh calon dai adalah pengetahuan dasar tentang agama, mulai dari aqidah akhlaq, fikih, Alquran dan Alhadis, tafsir, nahwu dan sharaf, hingga tasawuf. Pengetahuan yang diperoleh di pesantren, biasanya memberikan jawaban untuk itu,” jelas Manshur.
Berkah yang diperoleh warga Mutih ternyata tak cuma menjadi dai. Banyak pula warga Mutih yang menekuni profesi sebagai tabib.
“Umumnya, mereka memadukan pengobatan tradisional dengan ajaran yang didapatkan dari kitab kuning (kitab klasik yang banyak dipelajari di pesantren-red). Kalau menurut istilah sekarang, kerap disebut terapi ilahiyah.”
Seperti juga dai, para tabib asal Mutih itu berkiprah di banyak tempat, di kota-kota besar di Indonesia. Huda mencontohkan Tabib Dain dan Tabib Aulia yang membuka praktik di Yogyakarta. Bahkan kabarnya, tabib asal Mutih memiliki nama cukup populer dan dipercaya mujarab. Sampai-sampai Naimul Huda dengan sangat yakin mengatakan, “Kalau Sampeyan bertemu tabib terkenal yang mengaku berasal dari Demak, coba tanya saja. Biasanya dari Mutih.”(Achiar M Permana-78)

Desa Sentra Pembibitan Dai di Demak (2-Habis)Dapat Berkah Syekh dari HadramautMENGAPA dua desa di Mutih, Kecamatan Wedung, Demak dikenal sebagai desa santri dan ulama? Sekretaris Desa Mutih Kulon Naimul Huda menduga, banyaknya warga Mutih yang menjadi dai di luar daerah, tak lepas dari berkah Syekh Maulana Abdurrahman Albar.
Siapakah dia? Syekh dari Hadramaut Yaman itu dipercaya sebagai cikal bakal Desa Mutih. Sebuah kuburan tua yang terdapat di tengah persawahan desa tersebut dipercaya sebagai makam syekh tersebut. Makam itu dikenal penduduk setempat sebagai Burwatu (kubur watu). Dari kisah Syekh Maulana pulalah nama Mutih didapatkan.
KH Abdullah Manshur Sanusi, pengasuh Pesantren Darut Tauhid Alalawiyah Assanusiyah menceritakan, sang syekh hidup sezaman dengan Ratu Kalinyamat yang memerintah Jepara, sekitar abad ke-16. Diceritakan, Kalinyamat yang oleh penulis Portugis Diego de Conto disebut sebagai “Rainha de Jepara senhora pederose e rica” yakni Ratu Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa itu memiliki hobi berburu di hutan. Suatu ketika, syekh menemukan kijang milik Ratu Kalinyamat. Karenanya, sang ratu hendak memberikan hadiah kepada syekh. Ia pun mengutus para punggawanya untuk mendatangi syekh.”Tuwasana! (Berilah hadiah!),” sabda Ratu Kalinyamat, seperti disampaikan Kiai Manshur.
Rupanya, kata Kiai Manshur, pemimpin prajurit itu agak suda pangrungon. Ia salah mendengar dan menafsirkan perintah. Sependengarannya, ratu memerintahkan “Tewasana! (Bunuhlah!).” Maka, ia pun berangkat ke Demak dengan niat menghabisi Syekh Maulana. Misi sukses dilaksanakan, dan syekh pun tewas di tangan prajurit itu. Tapi, apa yang terjadi? Atas kehendak Allah, konon, darah yang mengalir dari diri syekh tidak berwarna merah seperti lazimnya, melainkan berwarna putih. Dari kisah itu muncullah nama Desa Mutih, yang dalam perkembangannya menjadi Mutih Wetan dan Mutih Kulon.
Makanya setiap habis panen, penduduk desa menggelar haul cikal bakal desa tersebut. Ali, putra KH Mansyur menceritakan, saat haul persawahan tersebut akan dipenuhi oleh ribuan peziarah. Pada umumnya, mereka berdatangan dari desa-desa sekitar Mutih Kulon. Namun, tak sedikit yang datang dari luar Demak, dan bahkan luar Jawa Tengah.
“Biasanya, para dai asal Mutih Kulon yang berdomisili di Jakarta akan pulang. Mereka mengajak serta habaib (keturunan Nabi Muhammad Saw-red) dari ibukota untuk menziarahi makam Syekh Maulana,” tutur dia.
Ilmu Agama
Cukupkah berkah yang konon diperoleh dari sang Syekh? Tentu saja tak cukup. Kesadaran warga Mutih untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu agama yang memadai juga sangat tinggi.
“Bekal minimal yang mesti dimiliki oleh calon dai adalah pengetahuan dasar tentang agama, mulai dari aqidah akhlaq, fikih, Alquran dan Alhadis, tafsir, nahwu dan sharaf, hingga tasawuf. Pengetahuan yang diperoleh di pesantren, biasanya memberikan jawaban untuk itu,” jelas Manshur.
Berkah yang diperoleh warga Mutih ternyata tak cuma menjadi dai. Banyak pula warga Mutih yang menekuni profesi sebagai tabib.
“Umumnya, mereka memadukan pengobatan tradisional dengan ajaran yang didapatkan dari kitab kuning (kitab klasik yang banyak dipelajari di pesantren-red). Kalau menurut istilah sekarang, kerap disebut terapi ilahiyah.”
Seperti juga dai, para tabib asal Mutih itu berkiprah di banyak tempat, di kota-kota besar di Indonesia. Huda mencontohkan Tabib Dain dan Tabib Aulia yang membuka praktik di Yogyakarta. Bahkan kabarnya, tabib asal Mutih memiliki nama cukup populer dan dipercaya mujarab. Sampai-sampai Naimul Huda dengan sangat yakin mengatakan, “Kalau Sampeyan bertemu tabib terkenal yang mengaku berasal dari Demak, coba tanya saja. Biasanya dari Mutih.”(Achiar M Permana-78)

Posted in: Uncategorized