TINGGINYA NILAI UCAPAN DALAM ISLAM

Posted on Agustus 12, 2010

0


by.Imroah Soleha——-
Islam telah mewajibkan bagi seluruh umatnya untuk selalu menjaga ucapan. Dan kita sebagai seorang muslim harus selalu memperhatikan tingginya nilai ucapan. Manusia terkadang mengabaikan betapa pentingnnya ucapan yang keluar dari lisan mereka. Bahkan jika sedikit saja ucapan dusta yang keluar dari lisan, dapat menjerumuskan ke neraka. Dan Allah akan member azab kepada manusia pendusta ketika mereka dibangkitkan dihari kiamat.
“dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam.” (Az Zumar : 60).
Pada hakekatnya dusta termasuk perbuatan munafik. Lalu apakah balasan perbuatan mereka ?
“ Dari Abu Hudzaifah r.a meriwayatkan bahwa Nabi SAW. Pernah bersabda: “diantara sahabatku akan ada dua belas orang munafik yang tidak akan pernah masuk syurga dan tidak juga mencium baunya. Delapan diantara mereka akan terlihat sebuah bisul ynag muncul dipundak mereka dan kemudian menjalar hingga ke dalam dada mereka.”
(H.R, Muslim).
Seorang yang sudah terbiasa berkata dusta, maka seterusnya ia tidak bisa berkata benar. Oleh sebab itu, biasakanlah berkata benar meskipun dengan pengorbanan, dengan begitu kita akan jauh dari lembah kebohongan.
Allah secara tegas mengharamkan pembicaraan dusta dan mengada-ada. Seperti firman Allah dalam surat Al-A’raf : 33 :
“katakanlah, Robku hanya mnegharamkan perbuatan keji, baik yang Nampak maupun yang tersembunyi perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alas an yang benar, mempersekutukan dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu serta berbicara dusta dan mengada-ada tentang Allah yang tidak kmau ketahui.”
Ada juga orang yang tak berakhlak, suka bergurau dan bohong. Sehingga bila didesak dan ditanya yang sebenarnya, maka ia hanya menjawab “itu hanya main-main saja” inilah hal-hal kecil yang harus kita hindari dalam bersenda gurautaupun dalam keadaan formil. Kita harus selalu memperhatikan kejujuran ynag keluar dari lisan kita. Karena kejujuran itu akan dipandang sebagai suatu argumentasi yang dapat dijadikan pegangan bagi masyarakat.
Ketika orang lain mengetahui sekali saja kita berdusta, maka kita tidak akan mendapatkan kepercayaan. Begitupun jika tidak ada orang yang mengetahui, mungkin kita bisa selamat. Tetapi, suatu saat kita tidak akan dapat menghindar dari hukuman tersebut. Dan pasti setiap perbuatan ada balasannya.
Ibnu katsir berkata : “ tidaklah anak adam mengucapkan satu kalimat, kecuali ada malaikat yang mengawasinya, bersiap untuk menjalankan tugasnya, dan menulis kalimat yang diucapkannya. Ia tidak akan melewatkan satupun kata atau gerakan.”
Apabila mereka sampai ke neraka, anggota tubuh mereka yang akan menjadi saksi atas perbuatan mereka.
“sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang mereka kerjakan.” (Fushilat : 20).
Jadi sudahlah sangat jelas bagi setiap manusia untuk selalu berhati-hati dalam ucapan. Dan selalu berpegang teguh kepada kebenaran. Dan hendaklah kita membiasakan berkata benar dan selalu mengevaluasi kata yang keluar dari lisan kita. Wallahu a’lam bishawab.
Posted in: Artikel Tasawuf