BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Posted on Agustus 1, 2010

0


Oleh
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas——

Pada hakekat seorang anak hrs beruntuk baik kpd kedua orang tuanya. Meski orang tua masih dalam keadaan musyrik mereka tetap mempunyai hak untuk mendptkan perlakuan yg baik dari anak-anaknya.

Beruntuk baik kpd kedua orang tua hrs didahulukan daripada fardhu kifayah dan amalan-amalan sunnah lainnya. Beruntuk baik kpd kedua orang tua didahulukan daripada berjihad dan hijrah di jalan Allah. Beruntuk baik kpd orang tua hrs didahulukan dari pada kpd istri dan anak-anak.

Beruntuk baik kpd kedua orang tua tdk berarti hrs meninggalkan kewajiban terhadap istri dan anak-anaknya. Kewajiban memberikan nafkah kpd istri dan anak-anak tetap dipenuhi walaupun kpd kedua orang tua hrs didahulukan.

Imam Qurthubi secara umum mengatakan bahwa dalam berbakti kpd kedua orang tua hendak seorang anak menyetujui apa yg dikehendaki, diinginkan dan dimaui oleh kedua orang tua. Fudlail bin Iyadl berkata, “Janganlah engkau mencegah apa-apa yg disenangi keduanya” Ketika dita bagaimana tentang berbakti kpd kedua orang tua, Fudlail menjawab, “Janganlah engkau melayani kedua orang tuamu dalam keadaan malas”

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits shahih yg diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah dita bagaimana berbakti kpd kedua orang tua, ia berkata, “Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk” [1] Artinya, orang tua dipersilahkan duduk terlebih dahulu.

Tidak boleh beruntuk baik kpd kedua orang tua dalam bermaksiat kpd Allah. Apabila orang tua menyuruh melakukan sesuatu yg haram atau mencegah dari peruntukan yg wajib, maka tdk boleh ditaati. Bahwa orang yg paling baik untuk kita jadikan teman dan sahabat karib selama-lama ialah orang tua sendiri.

Harta yg dimiliki seorang anak pada hakekat ialah milik orang tua. Sebagaimana telah datang seseorang kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, orang tua saya telah mengambil harta saya” kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memarahi orang tersebut dan berkata, “Kamu dan hartamu milik bapakmu” [2]. Berikan kpd orang tua apa yg ada pada kita yg pada hakekat ialah milik orang tua. Karena kita bisa berusaha, bekerja dan mendpt gaji, mendptkan ma’isyah (mata pencaharian), krn sebab orang tua yg melahirkan dan mendidik kita.

Kalau kedua sudah meninggal, tetap beruntuk baik dgn mendo’akan, menyambung tali silaturahmi kpd teman-teman orang tua yg disambung oleh keduanya.

Untuk menjadikan anak shalih berbakti kpd orang tua, bergantung dari pendidikan orang tua terhadap anaknya. Kalau ingin memiliki anak yg berbakti kpd kedua orang tua, tdk boleh meninggalkan pendidikan. Cara mendidik supaya menjadi anak yg shalih, anak yg taat kpd Allah dan RasulNya serta taat kpd kedua orang tuanya. Sejak kecil dididik dgn mentauhidkan Allah, diajarkan Al-Qur’an, sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diajarkan cinta kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga diajarkan tentang shalat.

Seandai sekarang ini ada anak yg durhaka kpd orang tuanya, kemudian orang tua ini menyesal dan bersedih, mungkin dahulu dia pernah beruntuk durhaka kpd orang tua sehingga sekarang dibalas oleh anak-anaknya. Ada riwayat yg masih perlu diperiksa, menyebutkan, “Hendaklah kalian beruntuk baik kpd orang tua kalian niscaya anak kalian akan beruntuk baik kpd kalian” Jadi dgn beruntuk baik kpd orang tua, insya Allah anak-anak akan beruntuk baik kpdnya. Tetapi kalau durhaka kpd orang tua, anak-anakpun akan durhaka kpdnya.

Hendaklah memperhatikan kedua orang tua seumur hidup dan jangan merasa lelah, capek, maupun letih, dalam berbakti kpd kedua sebagaimana kita tdk capek dan letih dalam taat kpd Allah.

Kalau selama ini pernah durhaka kpd orang tua, segeralah minta ma’af dan beruntuk baik kpd keduanya. Jangan mengulangi lagi dan bertaubat dgn taubat yg sesungguh baik laki-laki maupun yg perempuan. Mohon ampun dan bertaubat kpd Allah kemudian merubah sikap. Seandai kedua orang tua sudah meninggal mohon ampun kpd Allah dan mendo’akan dan bertaubat dgn taubat yg sesungguhnya, menyambung silaturahmi dgn teman-teman kedua orang tua.

Kalau ingin bahagia dan mendpt berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diluaskan rizki serta dipanjangkan umur dan dimudahkan segala urusan, dimasukkan ke dalam surga maka hrs terus beruntuk baik kpd orang tua. Jangan lupakan semua yg pernah diberikan kedua orang tua krn semua kebaikan mereka tdk dpt dihitung dgn apapun juga.

Maraji’
[1]. Al-Qur’an Al-Karim dan terjemahannya
[2]. Tafsir Ibnu Katsir
[3]. Shahih Bukhari
[4]. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani
[5]. Shahih Muslim
[6]. Sunan Tirmidzi
[7]. Sunan Abu Daud
[8]. Sunan Nasa’i
[9]. Sunan Ibnu Majah
[10]. Mustadrak Hakim
[11]. Majma’uz Zawaid wal Manbaul Fawaid, Abu Bakar Al-Haitsami, tahrij Al-Iraqi dan Ibnu Hajar
[12]. Al-Muhalla, Ibnu Hazm
[13]. Al-Kabaair, Imam Adz-Dzahabi
[14]. Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
[15]. Al-Maudluu’at, Ibnul Jauzi
[16]. Riyadus Shalihin, Imam Nawawi
[17]. Syarah Musykilul Atsar, Imam Ath-Thahawi, tahqiq Syu’aib Al-Arnauth.
[18]. Silsilah Ahadist As-Shahihah, Syaikh Imam Al-Albani
[19]. Silsilah Ahadits Ad-Dlaifah, Syaikh Imam Al-Albani
[20]. Shahih Jaami’ush Shagir, Syaikh Imam Al-Albani
[21]. Irwaul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabiil, Syaikh Imam Al-Albani
[22]. Shahih At-Targhib wa Tarhib, Syaikh Imam Al-Albani
[23]. Shahih Al-Adabul Mufrad, Syaikh Imam Al-Albani
[24]. Tamamul Minnah Takhrij Fiqih Sunnah, Syaikh Imam Al-Albani
[25]. Ahkamul Janaiz, Syaikh Imam Al-Albani
[26]. Misykatul Mashabiih, Syaikh Imam Al-Albani
[27]. Bahjatun Nadlirin Syarah Riyadush Shalihin, Syaikh Salim bin Id Al-Hilaly
[28]. Masail min Fiqhil Kitab wa Sunnah, Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar, cet. I th.1414H, Daarun Nafaais
[29]. Birrul Walidaian fi Qur’anil Karim wa Ahaadits Ash-Shahihah, Nidzam Sakkajeha, cet.VI th1413H, Maktabah Islamy
[30]. Adillah Mu’taqad Abi Hanifah Al-A’zam fi Abawaiy Rasul A’alaihissalatu wa salaam, Al-Alamah ‘Aly bin Sulthan bin Muhammad Al-Qari (wafat th 1014H), tahqiq Syaikh Mansyur bin Hasan bin Salman, cet. I th.1413H, Maktabah Al-Ghuraba Al-Atsariyah.

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam – Jakarta]
_________
Foote Note.
[1]. Shahih Al-Adabul Mufrad no. 32
[2]. Hadits Riwayat Ibnu Majah 2291 (Shahih Ibnu Majah no. 1855) Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar 4/277 no. 1598 (Shahih Musykilul Atsar Imam Ath-Thahawi tahqiq Syu’aib Al-Arnauth

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1390&bagian=0

Sumber Penutup Kitab Birrul Walidain [Berbakti Kepada Kedua Orang Tua] : http://alsofwah.or.id

Posted in: Artikel Tasawuf