Puasa Taklukkan Sinar Iblis

Posted on Juli 26, 2010

0


——-oleh: KH Bahaudin——–
PUASA DAN ILMU KEDOKTERAN MODERN
Untuk menutup pintu pintu pancaindera dapat dilakukan tanpa banyak mengalami kesulitan bagi orang yang perutnya kosong dari makanan, atau dengan kata lain dengan puasa lahiriyah dan batiniyah.

Kalau pintu pintu pancaindera dapat tertutup semuanya, maka bio elektronik bion bion yang berada di dalam otak tidak lagi mempunyai tuntutan materialistis, yakni tanpa memperhatikan peristiwa di sekitarnya. Di waktu itu tidak lagi menerima tambahan daya daya penginderaan sehingga dengan sendirinya bio elektronik tadi sudah lepas hubungannya dengan penginderaan yang berarti hubungan pribadinya dengan dunia luar telah terputus

Dalam keadaan demikian bio-elektronik yang berada di dalam otak menjadi otonom, walaupun pada hakikatnya elektron itu mempunyai sifat selalu bergerak bergetar dan berputar putar tanpa berhenti untuk menambah tenaganya. Akan tetapi pada saat itu elektron otomatis harus berhenti sehingga bio-elektronik (bion) menjadi lenyap dan kembali menjadi aether bagaikan air yang pada mulanya bergelombang-gelombang lalu diam dan tenang, bio-elektronik yang sudah berhenti berputar di dalam otak, kemudian pikiran yang materialistis menjadi pikiran yang abstracherend (anima abstractiva). Adalah pikiran pikiran yang halus yang dinamakan “ruh pikir” atau “corpus mentallis”,

Dari situasi pikiran yang demikian inilah yang dapat dipanjatkan ke dalam abstrak. Dari alam abstrak, pikiran akan menerima sinar yang menjelmakan pikiran yang bersifat apa yang disebut “sinar batin” (inwending licht), yakni sinar pikiran yang suci bersih yang dinamakan “budhi”. Sinar pikiran yang suci dapat melakukan peristiwa saling menggetar dengan alam Tuhan, dan tak mungkin daya daya iblis dari setan dapat mendekatinya. Sebagaimana juga elektron di dalam susunan atom kalau ditambah muatannya maka ia bertambah cepat gerakannya dan bertambah tinggi nilai angka getarannya, sehingga dapat saling menggetarkan dengan elektron yang sama angka getarannya.

Demikian juga orang yang berpuasa, yang dengan puasanya dipanjatkan ke alam Tuhan akan mempunyai keinginan keras untuk hidup suci dan ikhlas, ia akan memiliki ilmu pengetahuan yang dituntut oleh Tuhan yang sulit dimengerti oleh akal (ratio), wajahnya selalu tenang dan gembira. Keadaan yang demikian dinarnai “Transfigurasi”.

Tetapi bila berpuasa lahiriyah saja, ia hanya mampu menahan lapar dan haus, sedangkan pintu pintu pancainderanya dibiarkan bebas terbuka atau tanpa mengendalikan hawa nafsunya, maka otaknya tak mungkin dapat beresonansi dengan alam Tuhan, sehingga mustahil dapat merubah nafsu lawwahmah dan amarah (polemor da egosentris-nya) menjadi nafsu suci, berbuat ikhlas.

Dengan ringkas dapat diuraikan sebagai berikut: Setelah daya daya pikiran masuk ke dalam badan budhi, lalu berlangsung process of relay tadi, maka daya daya pikiran menjadi terikat dengan daya badan.

Daya daya ini menjelmakan pikiran yang mengandung budhi yaitu pikiran yang sudah terikat oleh dasar ke Tuhanan. Disaat itulah pikiran yang sudah terikat oleh dasar ke Tuhanan tadi mempunyai kemampuan untuk menangkap Sinar Tuhan (Nurullah). Jadi budhi merupakan alas penerima dari gelombang sinar yang memancar dari alam Tuhan. Sedangkan alam Tuhan sebagai sender atau gelombangnya. Oleh karena budhi mempunyai antena yang tinggi, sehingga karenanya bion bion yang menyusun budhi dapat melakukan kegiatan saling menggetar dengan alam gaib, maka ia dapat menangkap dengan jelas suara suara atau peristiwa gaib. Yang dipancarkan oleh alam abstrak yakni dalam alam yang mempunyai empat atau lima ukuran dan seterusnya, malah sampai puncaknya segala keadaan (het centrale beginsel), yaitu alam makrifat maupun hakikat. Disaat inilah “ruhani” sedang mengembara menuju hakikat yang metafisis immaterial, oleh karena seluruh pribadinya telah dikuasai aspirasi, sebagaimana firman Allah:

Wahai nafsu yang tenang (religius) hendaklah kamu kembali kesisi Tuhanmu dengan ikhlas yang diridlai, dan hendaklah engkau masuk golongan hamba Ku yang shaleh kemudian masuklah ke dalam surga Ku.” (Q.S. Al Fajar ayat 27,28,29 dan 30)

Dengan uraian ini dapat dimaklumi bahwa Sinar Tuhan itu hanya dapat ditangkap oleh mereka yang berbudhi, yang sanggup mengekang hawa nafsunya dengan melakukan puasa, shalat dan lain lain ibadah yang dilakukan dengan khusuk dan diiringi perbuatan yang ikhlas semata mata karena Allah, tanpa pamrih yang diarahkan menuju keridhaan Allah jua.

Dengan pancaran Sinar Allah yang menjadi pusat ilmu pengetahuan mereka dapat menangkap intuisi, aspirasi yang sanggup membuka tirai rahasia alam, berupa ilmu pengetahuan, bukan yang eksakta saja, melainkan yang abstrak, yang relatif sampai yang absolut abstrak wetenschap yang mustahil dapat ditangkap dan dianalisa oleh pengetahuan eksakta dan logika.

Inilah ilmiah dan rahasia puasa kalau dilakukan dengan tekun sebagaimana digariskan Allah dan Rasulnya.

Sabda Nabi: “Jika telah tiba bulan Ramadan maka terbuka pintu surga dan tertutup pintu neraka dan setan -setan nafsu terbelenggu oleh rantai. “

Hadis ini menunjukkan kalau sudah tiba saatnya bulan Ramadan maka:

1. Terbuka pintu surga, bermakna bagi mereka yang puasanya dapat merubah daya nafsu setaniyah menjadi daya yang murni yang menimbulkan niat murni ikhlas perbuatan yang membawa kemaslahatan. Terhadap mereka yang puasanya seperti inilah maka pintu surga terbuka baginya.

2. Tertutup pintu neraka, ialah orang orang yang benar benar mentaati perintah puasa, sehingga berhasil memadamkan api nafsu jahatnya, yang berarti ia telah berhasil menyelamatkan dirinya daripada api neraka yakni pintu neraka tertutup baginya.

3. Setan terbelenggu, mereka yang berpuasa dengan tekun yang dipanjatkan ke alam Tuhan, sehingga daya ruhaninya berhasil menaklukkan daya daya setan. Inilah yang dimaksudkan bahwa setan terbelenggu dibulan puasa.

Demikian juga meski bulan mubarak Ramadan tiba, akan tetapi bila umat Islam tidalk berpuasa bahkan dengan sengaja tanpa udzur, maka pintu surga tertutup baginya dan pintu neraka tetap terbuka baginya dan setan tetap bertebaran mengajak makan-minum kepada mereka dan batinnyapun tunduk kepada ajakan ajakan tercela dan penuh maksiat.

Jadi mereka tidak merantai setan, tetapi sebaliknya mereka sendiri yang dibelenggu setan.

Diriwayatkan al Bazaar dan Ibnu Abbas, yang artinya:

“Sesungguhnya Rasulullah jika sudah masuk bulan Ramadhan, beliau membebaskan orang orang tawanan dan memberikan makan kepada orang orang orang yang membutuhkan”.

XI. DAYA CIPTA RUH RABBANI

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Puasa itu pada bulan Ramadan, pada bulan itu diturunkan Al Qur’an buat menjadi petunjuk bagi manusia dan berisi keterangan yang benar dan yang salah. (Q.S. al Baqarah ayat 185)

Sebelum Nabi Muhammad saw. diutus menjadi Rasul, dunia dalam galap gulita, semua negara dan kerajaan di zaman itu berbuat sewenang wenang kepada rakyatnya, tidak ada peraturan dan undang undang, melainkan rakyat harus takluk dibawah kekuasaan Sang Penguasa, seperti negeri Romawi, Persia dan lain lain.

Terlebih lagi ditanah Arab, Nabi Muhammad saw. melihat sendiri keadaan masyarakatnya dan kaumnya berada dibawah kekuasaan nafsu setan yang merupakan penyakit ruhaniyah yang sudah sekarat. Mereka tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal keadilan, kemanusiaan, kepribadian, kebangsaan, persatuan dan persaudaraan. Bagi mereka, yang disebut Tuhan ialah siapa yang paling berani, patung patung dan berhala. Yang dinamakan kemanusiaan siapa yang merampok, merampas, berjudi dan minum minuman keras sebanyak mungkin, yang dinamakan keadilan siapa yang lebih kuat menindas yang lemah, yang dinamai kebangsaan siapa yang paling berani memeras dan memperbudak rakyat. Menyembelih dan membunuh dianggap pahlawan, bahkan membunuh anak perempuannya yang baru lahir dianggapnya perbuatan terhormat. Masyarakat terpecah belah menjadi beberapa kabilah atau puluhan partai yang antara satu dengan lainnya selalu bersengketa, saling bertengkar dan bermusuhan, berebut kekuasaan untuk keunggulan dan kekuasaan tanah Makkah, sehingga senantiasa terjadi pembunuhan dan perang saudara, untuk kepentingan partai dan golongannya sendiri. Kekacauan, keonaran dan sarangnya kemusyrikan tertanam berakar di dalam hawa nafsu mereka. Demikianlah keadaan di tanah Makkah sebelum Nabi Muhammad saw diutus.

Dalam masa yang sangat kritis itu maka Muhammad (sebelum menjadi Rasul) selaku manusia yang mempunyai budhi yang luhur yang setiap saat memusatkan pikirannya, juga ruhaninya untuk mencari jalan keluar ingin melepas rakyat dari segala tindakan yang membelenggu mereka, ingin membasmi perbudakan, keganasan pengacau dan teror, menyapu bersih pemeras pemeras negara dan rakyat, memberangus kutu kutu dan ulat ulat yang selalu mengorek kemajuan negara, melenyapkan kemewahan dan kesombongan pembesar pembesar dan kepala kepala kabilah yang mempertahankan kabilah atau partai golongan maupun aliran.

Untuk mensukseskan cita cita yang luhur dan maha berat itu, maka beliau mengambil keputusan yang amat berani untuk menjauhkan pribadinya dari segala macam pergaulan yang berada dalam kekuasaan nafsu hewaniyah.

Beliau meninggalkan istrinya Siti Khadijah pergi ke gua Hira dilereng bukit Tsur (sekarang Jabal Nur, karena disitulah Nabi menerima Nurullah (Wahyu Allah).

Di dalam gua yang jauh dari tempat kaumnya, ditempat yang sunyi hening dan gelap gulita itu beliau menyendiri, tujuannya hanya satu ialah membuat konsepsi untuk melepaskan kaumnya dan umat yang sedang dihinggapi penyakit ruhani yang tak mungkin dapat disembuhkan dengan pengobatan yang dihasilkan otak (ratio) melainkan harus disembuhkan dengan pengobatan ruhaniyah yang suci murni. Maka daya daya pikiran dan ruhani beliau di panjatkan ke alam yang tak terbatas sampai ke puncak semua alam, sehingga segenap alat pancaindera beliau tertutup sama sekali dari segala macam pengaruh disekitarnya dan dari segala macam tuntutan materiil

Perbuatan yang demikian inilah yang dinamakan: “mencipta” (mental licham) dan creativ Iicham yang dinamakan juga ruh rabbani.” Setiap daya ciptanya makin ditingkatkan sehingga elektron di dalam pikirannya kembali menjadi aether lalu dilepaskan tenaganya yang mulanya menjadi penggerak elektron yang dalam keadaan berputar putar, maka tenaga yang dilepaskan tadi menjelma menjadi “Sinar Bathin”, yaitu sinar abstrak yang mempunyai gelombang amat pendek.

Karena beliau memang mempunyai budhi luhur, maka tentu tidak begitu sulit bagi beliau untuk mencapai tingkat kcsadaran jagat raya cosmisch bewustzyn, ialah kesadaran yang dapat menghimpun segenap perasaannya untuk menyatu dengan Nurrullah (Unio Mystica). Orang yang begini berarti telah berhasil menundukkan nafsunya (instinct handeling), nafsu murka (driften) nafsu mementingkan diri sendirl, nafsu loba tamak atau dengan kata lain kepribadian yang diselubungi oleh nafsu.

Nabi bersabda: “Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan nafsunya. “

Dengan terselubungi oleh nafsu suci, sehingga daya daya ruhaniyah dapat memberikan komando kepada segenap alat jasmaninya. Karena pada hakikatnya yang dinamakan manusia ialah “ruhaniyah”nya, sedangkan tubuh jasmani hanyalah sebagai alat semata.

Demikianlah usaha beliau sebagai manusia biasa sebelum menjadi Rasul di gua Hira.

Setelah mencapai waktu 40 malam beliau bertafakkur, hingga tanpa beliau sadari tiba tiba datanglah Malaikat Jibril dalam rupa manusia menemui beliau selaku zat pembawa sinar (wahyu) Allah SWT. Peristiwa nu terjadi pada malam tanggal 17 bulan Ramadan, yakni malam ditetapkannya beliau menjadi Rasulullah untuk memproklamirkan Islam sebagai agama bagi seluruh umat manusia.

XII. JIBRIL ZAT PEMBAWA WAHYU

Malaikat adalah makhluk halus (gaib) yang dijadikan dari sinar, sebagaimana Sabda Nabi saw:

“Dijadikan Malaikat daripada sinar (Nur) dan dijadikan Jin daripada api yang bernyala nyala dan dijadikan Adam sebagaimana keadaanmu. “

Wahyu Allah disampaikan kepada beliau dengan perantaraan Malaikat Jibril. Jadi Malaikat Jibril adalah selaku zat pembawa wahyu “draagstof’, kemudian oleh Malaikat Jibril dipantulkan ke alam badan budi beliau.

Yang dimaksud Malaikat dijadikan dari sinar, bukannya sinar seperti yang kita lihat dengan pancaindera lahir, melainkan adalah sinar yang relatif abstrak, yang terdiri dari proton dan neutron yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan atom atom nitrogen atau zat lemas yang berada di dalam atmosfir yang menimbulkan atom carbonium atau zat cair.

Ilmu alam menerangkan bahwa atom hidrogenium menyimpan sifat radioktif, sedang intinya terdiri dari 6 proton dan 8 elektron. Dinamakan juga C.14, persenyawaan antara C.14 dengan oksigen dari udara, menjelmakan zat asam arang C0.2, yang dapat diserap oleh tumbuhan tumbuhan yang merupakan dasar kehidupan yang sangat besar sekali faedahnya bagi tumbuh tumbuhan dan sangat penting pula bagi ilmu hayat “Biologi”.

Begitu juga halnya sinar Malaikat malaikat, termasuk Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu, merupakan dasar dasar proses hayati atas kehidupan manusia yang sangat penting bagi kehidupan ruhani dan sangat besar pula faedahnya bagi ilmu Metabiologi yang merupakan cabang ilmu Metafisika.

Demikianlah proses turunya wahyu Allah SWT, yang diterima Rasulullah saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril yang ditangkap melalui badan budhi beliau yang berfungsi sebagai alat penerima, sedangkan Jibril berfungsi sebagai alat pembawa wahyu dari zendernya, yaitu alam wahdaniyah.

Setelah wahyu wahyu Allah SWT, diterirna oleh Nabi, maka kemudian disampaikan kepada manusia. Dalam keadaan demikian pun beliau berfungsi sebagai alat penerimanya. Persoalan wahyu, hanya dapat dianalisa ilmu Metafisika, bukan ratio semata mata. Oleh karena otak manusia hanya berfungsi kepada keadaan yang riil, nyata, yang dapat diraba dan diraga serta disaksikan oleh pancaindera.

Aliran listrik tidak akan mampu mengetahui apakah sebenarnya hakikat dari listrik itu sendiri. Manusiapun tidak akan dapat menguraikan dengar lisan maupun dengan tulisan, apakah yang dinamakan manis kecut pahit getir dari sebagainya.

Manusia dengan alat pancainderanya tidak bisa meraba dan melihat sinar Rontgen, Sinar Gamma, Sinar Ultra Violet, gelombang radio dan infrared.

Sebagaimana diketahui dalam ilmu Fisika, matahari menjadi pusat planeten system (sistem planet) yang memancarkan sinar cahayanya ke segenap penjuru alam. Sinar matahari tampaknya putih. Pada hakikatnya sinar putih itu terdiri dari nuansa paduan sinar (straal bundel) yang beraneka warna yang masing masing sinar itu mempunyai angka gelombang sendiri pula.

Dapat dibuktikan apabila sinar masuk kedalam kamar gelap melalui celah celah kecil dan di depan celah itu diletakkan gelas prisma, maka sinar putih tadi terpancar menjadi beberapa sinar yang masing masing mempunyai warna seperti kuning, hijau. merah, biru dan seterusnya yang masing masing gelombangnya dapat ditetapkan dari warna sinar tadi.

Dalam buku Lehrbuch der Physic fur Medisiner, Biologen und Psychologen, oleh E. Lecher hal 4l menyebutkan bahwa cahaya matahari tersusun dari paduan Sinar yang beraneka warna. Sinar itu pada hakikatnya adalah isr muatan yang ditambahkan kepada isi muatan elektron asli, lalu dilepaskan kembali dan gelombang sebagai sinar.

Alam dunia ini dengan segenap isinya baik manusia, tumbuh tumbuhan dari hewan sangat membutuhkan sinar matahari. Pertama, sinar matahari yang mengandung bermacam-macam warna sinar itu, kita perhatikan di antaranya satu sinar saja Misalnya sinar hijaunya.

Dedaunan mempunyai warna hijau adalah karena sinar hijau dari matahari yang diilaukan oleh daun daun tadi dan ilauan yang berwarna hijau itu ditangkap oleh mata kita yang kelihatan berwarna hijau. Sinar yang berwarna lain oleh daun dihisapnya. Proses ini berdasarkan resonansi. Dan setelah daya dayanya bergabung dengan chlorophyl dari daun daun ditambah dengan zat asam arang, maka di dalam daun daun tidak terbentuklah zat tepung. Proses ini di sebut “assimilasi”.

Kedua Sinar matahari dapat meruntuhkan gabungan putih telur yang berada dikulit badan dan reruntuhannya sanggup membunuh kuman kuman dikulit, temasuk kuman-kuman Tuberculose (TBC).

Ketiga, sinar Ultraviolet dari matahari dapat menambah vitamin, antara lain vitamin D dapat mencegah rachitis. Keempat, sinar matahari dapat menimbulkan kelenjar hormon pada kulit yang dapat menambah ketajaman pancaindera.

Kelima, sinar matahari dapat memberikan echo atau susunan persyaratan yang menimbulkan kesegaran.

Demikianlah antara lain faedah sinar matahari atas alam dunia ini dan seluruh makhluk di dalamnya, termasuk kesehatan jasad manusia.

Dapat dibayangkan jika tidak ada sinar matahari, pasti keadaan alam dengan segala isinya akan rusak dan binasa, juga barangkali mustahil ada kehidupan.

XIII. AYAT MEMILIKI DIMENSI TERAWANG KEILMUWAN

Manusia sebagai mahluk yang tersusun dari dua jenis tubuh ialah tubuh kasar dan tubuh halus, visible dan invisible, tubuh jasmani dan tubuh ruhani. Tubuh jasmani tersusun dari materi. Untuk memenuhi proses pertumbuhan dan kesehatan jasmaninya, dibutuhkan alat atau bahan yang tersusun dari materi, terdapat dijagat raya pula yang diolah oleh sinar matahari untuk kesempurnaan hidup tubuh jasmaninya.

Hakikatnya, kesehatan jasmani banyak bergantung pada pengaruh sinar matahari, maka tubuh ruhanipun memerlukan kesehatan untuk kebahagiaan hidupnya. Oleh karena tubuh ruhani bukan badan kasar yang tersusun dari materi, melainkan tubuh halus yang tersusun dari bion bion abstrak yang memiliki sinar gelombang pendek “mesa energi “, maka sudah sewajarnya makanan yang dibutuhkan ruhani bukan berupa materi atau pengaruh dari sinar matahari, melainkan makanan yang berupa sinar dari yang Maha Abstrak pula, yaitu sinar Allah.

Matahari yang menjadi pusat “planeten system” yang selalu memancarkan cahaya, maka sinarnya itu tidak sampai kealam dunia ini tanpa zat pembawanya (droogstof). Zat pembawa sinar matahari ke bunk kita ini tentu lebih halus lagi dari sinar matahari, bahkan lebih halus dari aether.

Matahari sinar Allah (wahyu) pun mempunyai zat pembawa zat. Zat pembawa sinar Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. ialah malaikat Jibril. Jadi Malaikat Jibril adalah merupakan zat pembawa wahyu. Karena wahyu itu dipancarkan oleh Yang Maha Suci, sudah tentu tidak akan turun kepada sebarang manusia, melainkan harus memancarkan kepada manusia yang suci pula ruhaninya dan yang “dikendakiNya”, dengan jalan saling menggetar yang dibawa Malaikat Jibril sebagai alat pengantar sinar, sebagaimana juga gelombang elektro magnetik jika menemui sesuatu yang mempunyai angka getaran dari elektron atau bion bion yang sama, maka elektron elektron tadi akan menggetar. Sinar Allah yang dibawa Malaikat Jibril itu menembus kedalam seluruh tubuh Nabi melalui badan rasa. Terus mengalir ke dalam badan nafsu, Ialu mengalir kedalam badan pikiran dan ke dalam badan akal, yaitu ruang yang mengatur jalannya pikiran dan melakukan perincian, yang aliran itu masing masing terlebih dahulu melakukan “process of relay” masuk kedalam badan badan budhi (de Geestelijke kracht).

Di dalam badan budhi lalu dihambat (dljemput) dan segera bion bion yang menyusun badan budhi Rasulullah melakukan peristiwa resonansi dengan Sinar Allah (Het Goddelijk Principe, De Geestelijke Essence, Het Levens Beginsel) yang akhirnya memancar mewujudkan firman firman yang menjadi dasar dari segala macam jenis Ilmu pengetahuan, baik yang eksak, abstrak, relatif abstrak , maupun yang absolut abstrak.

Dapat diibaratkan dengan lampu listrik, apabila arus listrik mengalir melalui alat penghambat (weerstand), maka ditempat itu timbul panas yang tingginya sesuai dengan besar penghambatan dan besarnya arus listrik. Derajat panas di dalam kawat tadi segera menjadi sangat tinggi dan akhirnya kawat itu menyala.

Semisal juga dengan sinar matahari yang menembus egosterin yang melekat pada lemak kulit tubuh “cholesterine” lalu berubah menjadi vitamin D yang berfaedah bagi pertumbuhan tulang belulang dalam tubuh.

Kalau sinar rontgen dapat digunakan untuk mengobati bermacam penyakit yang disebabkan infeksi, kuman kuman penyakit TBC, penyakit encok rematik dan kalau arus listrik diathermie dapat digunakan memberi badan “electronomi” atau untuk membakar “electro calgulatte” padahal daya daya dari sinar matahari, sinar rontgen dan sinar sinar lain tersebut, kesemuanya adalah berasal dari sinar sinar benda (materi), maka betapa maha hebatnya sinar Allah, “Wahyu” yang dipancarkan atas pribadi Nabi Muhammad saw pasti tidak hanya menyimpan daya daya penyembuh atas segala macam penyakit jasmani dan ruhaniyah semata, melainkan sanggup pula memberikan kesejahteraan hidup bagi seluruh alam dan isinya. Lantaran sinar Allah itu berasal Zat Yang Maha Menghidupkan dan Memberikan hidup serta Kehidupan, yaitu pencipta segala otak dari sekalian alam, baik alam benda stoffelijk gebied, alam pikiran wereld van Gedachten en verbeelding”, alam angan angan “iden wereld”. alam ruhaniyah “Geesten Wereld” alam dengan empat ukuran, lima, enam dan sampai beberapa dimensi, alam Malakut dan alam tidak terbatas.

Demikian proses pancaran wahyu yang dialirkan atas pribadi Rasultillah saw. Jadi yang dinamakan wahyu adalah suatu ilmu pengetahuan yang datangnya dari Allah SWT, ilmu pengetahuan yang mutlak yang paling, tinggi berdiri diatas segala kecakapan otak, dan mustahil didapatkan kesalahan, yang dipancarkan atas hambaNya yang ditugaskan menjadi Nabi atau Rasul untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Firman Allah Azza wa Jalla

“Wahai segenap manusia sudah datang kepadamu keterangan dari Tuhanmu dan Aku telah turunkan atasmu sinar yang terang benderang ” (Surat An Nisa ayat 174)

Kalau sinar matahari terdiri dari sinar straal bundel yang tersusun dari bermacam macam sinar yang beraneka warna dan setiap warna mempunyai gelombang sendiri, maka sinar Allah yang diturunkan atas Nabi Muhammad saw, terpencar pula menjadi 6666 sinar (ayat) yang tersusun menjadi kitab suci Al Qur’an dan setiap ayat memiliki gelombang sendiri sendiri yang panjangnya dapat ditetapkan dari bentuk, susunan ayat tersebut. Sebagai kata kunci tak ada yang mampu menandingi, karena Kalam Allah ini sarat dengan dimensi keilmuwan kecerdasan yang sentral. Tumpuan hakiki dari segala ilmu dijagat raya seisinya. “Ulul Abrar”

Bahkan setiap huruf dari ayat itu juga memiliki gelombang sendiri, antara lain gelombang yang memancar kearah tuntunan dan petunjuk dalam pelaksanaan pembangunan mental, pembangunan material dan spiritual yang multi-kompleks.

Xl V. CERMIN TRANSFIGURASI DIRI

Seperti yang diuraikan terdahulu, segala sesuatu yang ditangkap atau direkam pancaindera lahir itu berupa benda, sudah tentu menyimpan gambaran gambaran yang serba materialistis.

Pikiran yang demikian disebut pikiran yang materialistis. Daya yang ada dipangkal otak itu menjelmakan nafsu nafsu, maka pikiran yang materialistis tadi akan berbaur lagi, menjadi nafsu keinginan, kebencian, kemurkaan dan sebagainya.

Kemudian mengalir lagi ke pusat kemauan dengan melalui urat syaraf menuju otak untuk melakukan perbuatan. Karena daya pikiran bercampur dengan daya nafsu, maka dinamai roh hewani. Manakala nafsu nafsu ini tanpa kendali, ia akan terus bergelora dalam jiwa, laksana api yang menjilat jilat tanpa ada alat pemadamnya. Nafsu yang bersifat seperti api ini, sudah wajar kiranya bila saling bergetar atau berresonansi dengan yang sejenis, serapa jin/iblis.

Dari sinilah, berpangkal aneka perbuatan keji, sadis dan semacamnya yang semakin merajalela. Bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan seluruh amal amalannya tentunya dapat mencegah pengaruh daya setaniyah yang selalu mempengaruhi alat pancaindera, sekaligus dapat mengendalikan gerakan-¬gerakan perbuatan jasmaninya.

Ia dengan elektron elektron yang bebas dalam tubuh jasmaninya tengah bermunajat kehadirat Tuhan, tekun, dan taat, berupaya terus melawan godaan hawa nafsu ini. Maka barulah Allah akan memberikan cahaya “Nur” yang dilimpahkan pada mata hati dan anggota tubuh kita.

Sehingga berkat Nur, kita diberi komando untuk mengerjakan yang baik baik saja, terjauh dari amal perbuatan lahiriyah yang tidak diridhaiNya. Atau dengan perkataan lain, karena daya daya pikiran kita sudah mengandung sinar Tuhan (Nurullah), berarti daya daya pikiran dan segala perbuatan serta tindakan mendapat bimbingan, sehingga takkan mudah dipengaruhi atau dapat mencegah kegiatan hawa nafsu.

Sebenarnya, inilah martabat hamba hamba yang saleh. Jika kita menelangkahi diri, minimal kita berupaya, dengan niat ikhlas, membaguskan shalat dulu dalam arti kata yang sebenar benarnya, berlanjul pada amalan lainnya.

Pada hakikatnya orang yang tengah melaksanakan ibadah puasa, berusaha pula agar menutup semua pintu pancainderanya, sehingga bio elektro yang berpangkal pada otak tidak lagi berhubungan dengan dunia Iuar tubuh.

Tak ubahnya ia tiada berkehendak berbagai tuntutan materi, dengan kata lain tidak memperhatikan lagi keadaan disekitarnya. Dikala otak tidak lagi menerima beban daya tambahan dari penginderaan, maka dengan sendirinya bio elektron terlepas dari ikatannya, yang berarti seluruh pribadinya memutuskan hubungan dengan dunia luar. Selanjutnya, kerja otak menjadi otonom, selalu bergerak, bergetar, berputar putar tiada henti untuk menambah tenaga. Namun pada saat itu dengan kehendak sendiri otomatis elektron tadi berhenti berputar, lantas menjadi lenyap dan kembali menjadi aether; seperti halnya air yang pada mulanya beralun, bergelombang dan berputar lalu secara otomatis diam dan tenang.

Bio-electron yang sejenak berhenti berputar pada otak, maka daya pikiran yang semula berbentuk pikiran materialistis lalu berabstraksi (anima abstraktiv ) menjadi pikiran yang halus disebut ruh pikir (corpus mentalis)

Kehebatan pikiran yang seperti ini bisa memanjat ke alam abstrak dan memberi sinar kepada pikiran. Sinar yang berasal dari alam abstrak tadi diterima oleh pikiran disebut “sinar batin”.

Kemudian pikiran yang semacam ini dapat melakukan getar menggetar (resonansi) dengan alam Malakut yaitu alam yang mengandung nafsu nafsu suci Dalam ajaran Islam, Malaikat itu dibuat dari Nur, yakni sinar yang bersih dan suci. Justru itu pula Malaikat sebagai makhluk suci tidak pernah membangkang terhadap perintah Ilahi.

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Apabila sudah masuk Ramadan, dibukalah semua pintu surga, ditutup semua pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan. “

Bagi martabat hamba Allah yang saleh berpuasa dengan sebagus bagusnya berikut amalan lainnya, pastilah pikirannya beresonansi dengan Malaikat ke alam yang Suci, bahkan sampai pula ke alam yang Maha Suci atau Alam Tuhan.

Berarti dia akan menerima sinar dari Tuhan (Nurullah). Orang yang diliputi kesucian ini, akan menjadi genius memiliki kecakapan mencipta. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil daya cipta adalah bernilai tinggi diluar kemampuan akal dan ratio, bahkan dalam waktu yang sangat singkat dapat memiliki pengetahuan yang luas. Roman mukanya selalu tampak ceria, tenang dan perbawa, kendati diliputi oleh berbagai peristiwa yang luar biasa. Tak ubahnya, ada sentuhan energik dari Rabbi yang marnpu membuka hijab antara kedirian manusia- manusia dengan kehebatan Kosmos dalam keluasan Alam Semesta.

Itulah tranfigurasi bagi dirinya. Puasa dapat mengubah daya-daya nafsu lawwamah dan ammarah (polemos dan egosentris) menjadi nafsu Suci.

Seperti dikemukakan terdahulu, menurut hukum kekekalan daya, tidak ada energi yang lenyap tanpa beralih menjadi daya lain. Sebagaimana juga pada energi mekanik dapat berubah menjadi energi termik Maka sudah wajar, manakala orang yang puasanya ditingkatkan ke Alam Tuhan, tentulah menghancur-lumatkan nafsu polemos dan egosentris hingga sehalus halusnya, hingga berubah sifat dengan gelombangnya menjadi sinar bathin yang disebut juga sinar ruhani.

Dalam ilmu Fisika disebutkan, elektron-elektron yang kehilangan sifatnya akan kembali menjadi eather dan bergelombang menjadi sinar yang akan sanggup menembus segala keadaan. Sebagaimana halnya atom dan ion-ion dipecah pecahkan didalam elektron- elektronnya dengan pertolongan atom, maka tenaga yang keluar dari reruntuhan itu sangat besar dari hebat sekali. Begitu juga butir-¬butir debu (Corpuscula) jika dipecah pecahkan dengan hawa panas (termis energi) akan hancur lebur menjadi hawa atau uap.

XV. MENYIMAK FENOMENA JAGAT

Setelah pikiran itu masuk ke dalam budhi, berlangsunglah process of relay dengan sinar sinar budhi, sehingga menjelmakan pikiran yang terikat dasar Ketuhanan. Di kala itulah budhi merupakan alat penerima (onvanger) dari gelombang gelombang sinar yang datang dari alam Tuhan.

Apabila budi telah menerima sinar Tuhan, maka secara langsung akan menerima tuntunan, pimpinan, dan petunjuk Tuhan serta ilmu pengetahuan di atas dasar dasar kodrat dan iradat. Dengan perantaraan budhinya ia akan memiliki antena yang tinggi, sehingga bisa menangkap dengan jelas suara-suara atau peristiwa yang terpancar dari alam abstrak, dari alam yang mempunyai 4 atau 5 dan 6 ukuran (dimensi), bahkan sampai kepuncak segala keadaan Het sentrale beginsel.

Dalam melakukan kontemplasinya disebut pula tengah berma’rifat kepada Allah SWT. Di saat berma’rifat ini, bio-elektron tidak lagi berputar putar, sehingga urat syaraf sejenak tiada lagi memancarkan impuls listrik hidup yang datang melalui pancaindera.

Akibat dari proses yang demikian ini mata tidak lagi merasa melihat, telinga tidak mendengar, kulit tidak merasakan panas atau dingin, sehingga ia tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di seputarnya. Seolah olah dia sedang tidur, ruhani sedang mengembara menuju hakikat yang metafisis immaterial. Menjelajah, berawal dari elemen padat yang imanen menuju titik tumpu yang transenden tiada bertepi.

Dalam suasana yang hening ini, badan kasar dan badan halusnya menjadi tenang dan tentram menuju ke alam Tuhan.

Firman Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur’an:

“Hai nafsu yang tentram, hendaklah engkau kembali kehadirat Tuhanmu dengan ikhlas dan diridhai, dan hendaklah engkau masuk golongan hambaKu yang saleh kemudian masuklah ke dalam surgaku, “

Untuk memenuhi panggilan Tuhan sebagaimana termaktub dalam ayat tersebut, maka ketika itu budhi harus memancarkan sinarnya yang langsung beresonansi. Menurut ilmu Metafisika, sinar budhi ini memiliki kilometer. Disaat sinar budhi itu menangkap sinar Tuhan, ia berbentuk
“Artheris”, karena sinar Tuhan ini tak bakal di peroleh mereka yang tiada berbudi, sekalipun ia memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Dalam suasana aspirasi inilah maka Sinar Allah yang menjadi Sumber segala ilmu segera memancarkan gelombangnya berupa sinar kearah budi, sehingga terbukalah tabir rahasia alam yang akan memberikan ilmu pengetahuan yang sanggup memecahkan berbagai masalah atau peristiwa, baik yang berhubungan dengan dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan maupun peristiwa yang akan terjadi dan aneka persoalan sulit dan rumit yang sedang dihadapinya.

Ilmu pengetahuan yang demikian ini disebut ilmu yang relatif abstrak yang tak mungkin ditangkap dan dianalisa oleh ilmu pengetahuan eksak ratio dan logika, itulah sebabnya betapa kehebatan pendidikan puasa dengan segala amalannya bagi kesehatan jasmani dan rohani serta ilmu pengetahuan. Dan tentu dapat disadari pula betapa ruginya orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh kccakapan batin yang sangat tinggi nilainya dan sangat dibutuhkan umat manusia. Sebab mereka cuma sekedar puasa memenuhi kewajiban lain tidak.

Betapa bahagia mereka yang berhasil dengan puasanya, apalagi jika sebelumnya sudah dibekali ilmu pengetahuan eksak seperti Anatomi, Kimia, Geologi dan Astronomi, dan sebagainya, atau dengan kata lain kalau puasa dilakukan oleh golongan intelektual maka dengan demikian semakin mapan dan sinambung pula ilmu ilmu yang diperolehnya yakni ilmu yang “Serba Meta”.

Sejauh itu pula kita bakal merasakan, barangkali tidak terlalu sulit buat mengobati diri kita sendiri, setelah secara sadar mengenal diri sedalam dalamnya dan beroleh manfaat pula berkat amalannya secara benar dan bagus.

Meski dimafhumi bahwa jasmani kita dapat diobati dengan obat konvensional hasil kecakapan otak, namun kesehatan yang sebenarnya belumlah memadai karena dalam diri kita terdiri dari batin dan lahir. Dan inilah ilmu Psikosomatik merumuskan bahwa banyak penyakit bergantung pada keadaan batin si penderita. Apalagi di dalam tubuh kita merupakan apotik terlengkap.

Doktor Paryana Suryadipura dalam bukunya “Manusia dengan Atoomnya” juga menyebutkan bahwa di dalam tubuh kita selain memiliki daya batin, juga “vizvitalis” (daya hidup) kemudian yang terpenting adalah “viz medicatrix naturae” sebagai daya penyembuh asli, tenaga yang terbatas berkat karunia Ilahi dengan dibekali rasa pasrah kepada sumber dari semua tenaga yang Maha Kuasa.

XVI. JIWA IKHLAS MEMBAWA SEJAHTERA

Berkat ajaran Al Qur’an yang disampaikan Rasulullah saw, maka keadaan umat yang pada mulanya dihinggapi penyakit ruhani yang sudah sekarat itu, dalam masa beberapa tahun saja telah berbalik menjadi umat pembina negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, umat yang berjiwa pahlawan dan pelopor dalam segala macam pembangunan yang mengagumkan para ahli sejarah dunia sampai sekarang ini.

Umat yang pada mulanya terpecah pecah menjadi 360 kabilah/partai/golongan yang selalu bercakaran, bermusuhan dan saling berebutan pengaruh dan kedudukan, akhirnya menjelma menjadi umat yang satu, umat yang bersaudara yang mengarahkan tujuannya diatas kepentingan bersama demi kesejahteraan hidup bersama tanpa memandang kulit dan bulu, antara pria dan wanita, kesemuanya didasarkan atas ketakwaan kepada Allah semata, untuk mencapai kebahagiaan hidup bersama baik didunia maupun akhirat.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla:

“Hendaklah kamu berpegang kepada tuntunan Allah keseluruhannya dan janganlah kamu menjadi umat/bangsa yang berpecah belah, dan hendaklah kamu menyadari nikmat Allah yang dikaruniakan atasmu pada waktu kamu saling bermusuhan, lalu Allah jadikan kamu umat yang bersatu hati, maka dengan nikmat Allah tadi terciptalah persaudaraan diantaramu” (Ali lmran ayat 103)

Berdasarkan fiman Allah tersebut, jelaslah bahwa persatuan lahir batin membawa kesejahteraan hidup bangsa dalam negara. Dengan persatuan lahir batin tak mungkin timbul sengketa, permusuhan dengki iri hati, loba, tamak, rebut kedudukan dan saling menjatuhkan sebagaimana yang dialami masyarakat Arab jahilliyah.

Setelah mereka menerima ajaran ajaran Allah, berupa Al Qur’an yang diinjeksikan kepada mereka oleh Rasulullah saw, mereka menjadi umat yang satu hati, satu cita cita dan satu tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama, mereka bukan lagi umat jahiliyah, melainkan telah menjelma menjadi umat yang berbahagia.

Jadi yang dinamakan negara sejahtera bukan hanya tergantung atas kekayaan bumi dan alamnya semata, melainkan harus dititik beratkan atas budi pekerti rakyatnya. Walau suatu negara menurut pandangan lahir telah mencapai puncak kemajuan teknologi, namun belum dapat dinamakan negara sejahtera.

Ada beberapa negara yang kaya raya. yang cukup syarat-syaratnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya bahkan hasil kekayaan negaranya berlimpah ruah. Akan tetapi apakah negara negara itu sudah dikatakan negara sejahtera, rneski negara itu sudah dikatakan kaya raya dan terdapat beberapa raja uang, pengusaha bermodal, pabrik yang besar, gedung bertingkat menjulang-julang kelangit, akan tetapi bila disampingnya masih terdapat beratus- ribu penderitaan dan gangguan gangguan dibidang keamanan yang senantiasa mengganggu ketentraman bagi penduduknya.

Maka dari itu, suatu negara belum dapat dinamakan sejahtera jika di dalam negara itu tidak terdapat ketertiban (rust on orde and welvarend, terlebih lagi kalau di negara tadi senantiasa timbul permusuhan, penindasan, perampasan dan semacamnya. Oleh karenanya ketertiban batin geestelijke weerde dan ketertiban lahir harus dimiliki setiap orang.

Ketertiban lahir dan batin akan banyak berhasil dengan pendidikan puasa. Orang yang tidak melakukan pelanggaran karena takut kepada petugas keamanan, maka orang itu tidak memiliki ketenangan lahir-batinnya.

Sedangkan orang yang memiliki ketertiban lahir-batin, baik ada petugas keamanan maupun tidak ada, ada inspeksi atau tidak ada, ada kontrol atau tidak ada, ia akan tetap berlaku jujur disebabkan ketertiban laku batinnya diperoleh dengan puasa lahiriyah dan batiniyah (mutmainnah) (religius instinct) yaitu keinginan orang untuk berbuat baik, yang ditimbulkan oleh jiwa yang ikhlas, jiwa Ketuhanan (goddelijk heids inden mens).

Dari jiwa Ketuhanan itu akan memancarkan sifat sifat terpuji, perikemanusiaan (humaniteit) kepribadian dan kebajikan (ethica) rasa cinta kcpada sesamanya (liefdadigheid), keadilan (rechtvardigheid) kesusilaan (moral) dan rasa keindahan (aesthetica)

Sifat sifat yang demikian adalah menjadi alat pendorong (stuwkracht dan dinamisch motif) untuk mengatasi setiap negara sebagaimana telah dialami masyarakat Arab dibawah pimpinan Rasulullah saw dengan bimbingan Al Qur’an guna menjadi ibarat bagi seluruh umat.

Hal itu sebagai sebagaimana difirmankan Allah Azza wa Jalla

“Sesungguhnya Aku telah nyatakan bermacam perumpamaan (ibarat) didalam al Qur’an ini kepada manusia, akan tetapi senantiasa mereka memhantah. ” (al Qur’an surat al Kahfi ayat: 54)

XVII. I’TIKAF DAN TAFAKKUR

Firman Allah:

“Dan janganlah kamu melakukan hubungan kelamin dengan isteri isterimu di waktu kamu sedang ber’itikaf di dalam masjid ” (AI Baqarah ayat 187)

Definisi i’tikaf ialah berdiam (bertafakkur, bermeditasi) untuk sementara waktu di dalam masjid, tempat tempat ibadah disertai dengan puasa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.:

“Tidak ada i’tikaf melainkan dengan berpuasa. “

Maka berpuasa adalah syaratnya: i’tikaf menurut keterangan Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa berpuasa menjadi syaratnya i’tikaf. Diutamakan ber i’tikaf pada sepertiga yang terakhir di dalam bulan Ramadhan, berdasarkan contoh dari Rasulullah saw, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah:

“Nabi saw ber itikaf pada sepuluh hari yang terakhir di dalam bulan Ramadhan sehinggabeliau diwafatkan oleh Allah. Kemudian ber¬i’tikaf isteri isteri beliau “

Untuk kaum wanita yang ber i’tikaf tentunya di dalam masjid di tempat khusus untuk wanita Maksud ber i’tikaf umumnya mengharapkan untuk berjumpa dengan Lailatul Qadar. Seorang yang ber’i’tikaf tidak dibenarkan keluar dari masjid melainkan karena hajat biasa dan minat syar’iyah misalnya: hajat biasa. membuang hajat kecil dan buang air besar. haid, mandi kalau ihtilaam, mengambil air wudlu dan semacamnya.

Untuk menemukan atau menerima peristiwa Lailatul Qadar (turunnya Malaikat), tidaklah mudah. Oleh karenanya diperlukan ber’itikaf, yakni mengasingkan diri dari masyarakat ramai dan membanyakkan shalat sunnah disamping shalat wajib, bertasbih dan bertahmid agar pikiran dapat dipanjatkan ke taraf mutmainnah (religius intinct) sehingga daya daya pikiran berubah menjadi butir butir zat mutlak untuk dipanjatkan menuju Yang Maha Mutlak (Allah SWT).

Firman Allah

“Wahai nafsu mutmainnah hendaklah engkau kembali kepada Tuhanmu dengan ridla dan diridlai dan hendahlah engkau masuk golongan HambaKu yang shaleh, kemudian masuklah ke dalam surgaKu. ” (al Fajr ayat 27, 28, 29 dart 30)

Diwaktu bertafakkur maka urat syaraf tidak lagi menerima impuls listrik yang datang dari pancaindera. Karena pancaindera telah tertutup semuanya tidak menerima tuntunan yang bersifat material, yakni tidak menerima rangsangan dari luar/tubuh jasmani, sehingga daya daya ini menjadi otonom dan lambat laun memasuki alam yang immaterial yang menimbulkan pikiran yang normatif, pikiran yang abstrakeerend (anima abstractiva). Yang merupakan syarat utama untuk memasuki alam Tuhan, alam Wahdaniyah, yaitu daya daya pikiran yang berfungsi intuitief. Jadi daya daya listrik hidup dalam potensi, lalu berlangsung proses ulangan system of relays yang melepaskan elektron hidup (bio electronen).

Sebagaimana juga daya listrik pada setiap benda pengantar daya listrik (electrische geleider) merupakan daya dalam potensi. Apabila daya listrik tadi mengatur di dalam kawat, maka disekitar kawat itu segera timbul medan daya magnet (magnetische krachtveld). berdasarkan hukum penarik sumbat.

Dalam keadaan bertafakkur dari bias meditasi dan kontemplasi, otak tidak bekerja lagi, karena daya bio electronen yang berada dalam otak telah tertumpah mengalir ke dalam ruang budhi (de geestelijke kracht) yang menjelmakan menjadi sinar rohani (meta energi). Kalau khusuk dalam tafakkur, maka meta energinya pun akan mempunyai antena yang tinggi.

Antena yang rendah walaupun dapat menangkap suara, tetapi bunyinya terganggu atau feeding, akan tetapi antena yang tinggi akan menangkap suara yang terang jelas dari alat penyiar radio (radio zinsder).

Demikian juga meta energi yang tinggi yang mencapai taraf “mutmainnah” (zule vreede) mempunyai daya tembus luar biasa yang dapat dipancarkan ke alam jagat raya. Dalam kitab “We onbekende Mensch ontaarding of vernienwing”, hal 318, oleh dr. Alexis Carrel, menyebutkan: “ziyn guest omvat met be hull) van mathematishe abstractics zowel de electronen als de sterren “, artinya: “Rohaninya yang mutlak dengan perhitungan dapat mendekati electron electron maupun bintang bintang”. Maka, disaat bertafakkur itu benar benar sadar atas dirinya dan kesadaran terhadap Yang Maha Kuasa (Allah).

Sehingga terpancarlah kesadaran batinnya, bahwa yang dinamakan manusia adalah rohaninya, sebagaimana juga disebutkan dalam kitab “Leber das Wesen und den ursprung des Menschen”, hal 21 oleh Shoseki Kaneko: “In Ganzheid in Allheid ist der Menscherst wirklicht er selbst”, artinya: “Pada kesimpulannya maka manusia menyadari atas pribadinya”.

Jadi kesimpulannya mereka sendiri ber i’tikaf dengan bertafakkur akan menimbulkan:

1. Kesadaran atas diri sendiri yang bersifat jasmani (het lichamelijk zielbewustzijn).

2. Kesadaran atas diri sendiri yang bersifat rohani (het psychisch ziel berwutzijn). Kedua ksadaran tersebut sebagai totalitas yang dinamakan “het zuiverzielfbewust zijn” ialah kesadaran yang murni.

3. Kesadaran jagat (het cosmesche berwustzijn).

Berkumpulnya tiga kesadaran ini dinamakan Roh Rabbani (aetheris lichaam) yakni sinar Allah memancar kepada pribadi orang yang bertafakkur. Dalam kitab: “De Religie Vanden Islam” hal. 127 oleh Maulana Muhammad Ali M.A.L.L.B., menyebutkan: “Roh Rabbani berasal dari suku kata Robb, berarti pencipta dari segala yang maujud dari yang menyempurnakan.”

Di waktu sinar Allah memancar ke dalam pribadinya, maka disaat itulah yang ber’i’tikaf dan bertafakkur menerima “Nurullah” (het goddelijke in denmens). Yang dipantulkan ke alam Malaikat sebagai zat pembawa Nurullah atas pribadi orang tersebut, berupa intuisi (ilham, lah dunni, kasyaf), baik yang “Infra” maupun yang “Supra”. Serangkaian tatanan integral dalam munajat Khalwat dan madhah sebagai titian menelusuri titik sumber yang tanpa batas. Berupa petunjuk sesuai dengan yang diniatkan/dihajatkan semua orang yang ber i’tikaf, inilah yang disebut “Malam Lailatul Qadar”.

Firman Allah Azza wa Jalla

“Allah mengaruniakan rahmat (shalawat) atasmu beserta para MalaikatNya untuk melenyapkan gelap menjadi terang benderang atasmu Dan Allah pengasih atas mereka yang beriman. Ucapan mereka tatkala menemui Alam Wahdaniyah (A Halt): “Selamat Allah menyediakan atasmu pahala yang besar (mulia). ” (Al. Ahzab ayat 43, 44)

XVIII. LAILATUL QADAR

“Sesungguhnya Aku (Allah) turunkan al Qur’an di malam “Lailatul Qadar “. Tahukah engkau apakah sebenarnya Lailatul Qadar itu. Lailatul Qadar adalah lebih baik dari pada 1.000 (seribu) bulan. Di malam itulah turun para malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan sejahtera pada malam itu hingga fajar menyingsing. ” (AI Qur’an surat al Qadar ayat 1 5)

Di ayat tersebut Allah menerangkan bahwa “Lailatul Qadar”, lebih baik (utama) dari 1000 (seribu) bulan, marilah kita coba analisa kandungan dalam ayat tersebut.

Dalam “Kentering van het Westelijk Wereldbeeld”, hal 76, oleh J. Gebeer, menyebutkan bahwa kecepatan sinar ruhani (meta energi) menurut ilmu Metafisika adalah: 30.000.000.000.000.000 km per detik (tiga puluh Quadrillion km per detik). Sedangkan di dalam Fisika kecepatan sinar biasa adalah: 300.000 km per detik.

1. Kecepatan sinar menurut Fisika
Setiap detiknya: 300.000 km.
Satu menit : 300.000 x 60 = 18.000.000 km .
Sehari Semalam: 108.000.000×24=25920.000.000 km
Satu bulan: 25920.000.000 x 30 hari = 777. 600.000 km.
Seribu bulan: 777.600.000×1000 = 777.700.000.000.000 km

Yang tersebut diatas ialah kecepatan sinar biasa dalam fisika dalam 1000 (seribu) bulan.

2. Kecepatan sinar Ruhani, (meta energi) dalam Ilmu metafisika

Sinar Ruhani setiap detiknya:
30.000.000.000.000.000 km. Kalau sinar biasa dalam 1000 (seribu) bulan mempunyai kecepatan 777.600.000.000.000 km. Maka sinar ruhani dalam satu detik jika dibandingkan dengan kecepatan sinar biasa masih ada kelebihan : 30.000.000.000.000 km 777.600.000.000 km = 29.222.400.000.000 km atau = 37, 627 bulan, 9 hari, 10 jam, 39 detik 21,6 detik.

Jadi jelaslah di dalam al Qur’an tersebut dinyatakan bahwa “Lailatul Qadar” itu lebih balk (utama) daripada 1000 (Seribu) bulan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka yang ber i’tikaf dan bertafakkur dibulan Ramadan benar penar lebih baik daripada seribu bulan.

Karenanya tidak mustahil bila orang yang ber i’tikaf dan bertaffakkur dalam bulan Ramadan dapat menjumpai sinar Malaikat, sehingga dapat menyaksikan peristiwa di alam gaib, hakikat semesta alam yang mengandung ilmu pengetahuan baik yang berujud intuisi “baik” yang infra maupun yang supra intelektual.

Filsafah dan ilmu hikmah (de absolute waarheid), ialah tingkat kesarjanaan yang dikaruniai langsung dari Allah SWT yang oleh ahli filsafat dinamai: intelek Ketuhanan, orang yang dikaruniai intuisi langsung (directe aanschouwing).

Lalu kalau kita cermati surat al Ma’arij, ayat 4 yang artinya:

“Malaikat dan Jibril naik padaNya (menghadap Allah) pada hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun. “

Jadi Jika Malaikat bergerak dalam satu hari, sama dengan manusia mengelilingi jagat raya selama 50.000 tahun. Sementara ada rekayasa perhitungan Ir. Sahri Muhammad, bahwa kecepatan Malaikat 2.816.358 kali kecepatan cahaya, hampir 10 juta km/detik. Kita mafhurn mereka adalah dalam roh, yang tak bisa dilakukan dengan alat teknologi apapun.

Di dalam mencari Lailatul Qadar ini Rasulullah bersikap sangat arif. Bukan untuk nyepi dipuncak gunung, tempat-tempat keramat atau kegua gua. Melainkan umatnya disuruh mencari dengan banyak bertaubat., membaca Al-Qur’an, dzikir dan ber i’tikaf di masjid.

“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. tatkala sudah masuk malam kesepuluh (dari bulan Ramadan) beliau bangun diwaktu malam dan membungunkun isteri beliau serta mengencangkan kainnnya. (Hadis Bukhari, Muslim dari Aisyah ra)

Begitulah contoh teludan Nabi yang maksum, dijamin terjauh dari berbuat dosa, untuk diikuti umatnya. Bangun beribadah di kala malam hening, bermunajat kehadirat Allah Rabbul Izzati seraya meratapi alur dosa perbuatannya yang khilaf kepadaNya, merupakan tanda keprihatinan yang paling dalam, sekaligus mengemban tanggungjawab yang diamanatkan sebagai khalifah dibumi.

Malam kekuasaan Allah dan malam kemuliaan yang dilimpahkan Allah kepada alam dan manusia, Salah satu sunnah yang dianjurkan untuk orang menunaikan ibadah puasa Ramadan, selain taubatan nasuha dan ber i’tikaf di masjid, ialah membaca Al Qur’an dengan tartil dan tertib.

Lantaran itu pula kaum Muslimin Indonesia merasa berbahagia dan bersyukur kepada Allah SWT, yang telah menurunkan Wahyu Al Qur’an pada tanggal 17 Ramadan dimalam Lailatul Qadar.

Dengan demikian kita dapat hidup mendapatkan cahaya hidayah dari Allah guna kebahagiaan lahir dan bathin, di dunia dan akhirat.

XIX. FITRAH KEMENANGAN UMAT

Betapa rasa syukur dan bahagia, setelah satu proses hidup mendahului hari ini. Di bulan ramadan yang penuh berkah, sebulan lamanya kita melaksanakan ibadah puasa dan segala amalannya. Terasa nikmat bagi mereka yang melaksanakan puasa dengan bagus, lalu bergayut lebih dalam lagi, syukur tiada tara, dihari pengembalian fitrah insani, Idul Fitri sungguh bahagia.

Idul Fitri bermakna hari raya Fitrah yang, juga berarti kembali kepada asal kejadian manusia yang suci. Islam mengajarkan bahwa insan dilahirkan sama, dia suci tak terbesit dosa. Namun sejauh itu, manusia tak tetap menjadi bayi yang renyah gelak sembari tidur, karena harus tumbuh meningkat dewasa dan suatu saat menjadi tua bangka. Hakikat Idul Fitri secara harfiah bermakna kembali kepada fitrah insani, hari raya fitrah. Lalu arti fitrah sendiri, sedikitnya memiliki empat arti. Yaitu berbuka, kesucian, kejadian, asli dan agama Islam. Pelatihan akbar selama Ramadan, kalau kita menghitung-hitung amalan yang ditunaikan dan berhasil membersihkan jiwa dari segala dosa, maka yang tinggal adalah jiwa yang asli, terjauh dari pencemaran. Jiwa asli itulah sosok dari kejadian asli manusia yang dikehendaki AI Khaliq.

Sebenarnya dihari yang indah dan syahdu ini, sebagai perenungan hakiki bagi pengenalan din, dipertanyakan dari mana kita datang dan akan kamana kelak?. Maka sejenak timbullah dibenak setiap muslim atau keyakinan, bahwa kita dan segala perpautan daur hidup dan kehidupan jagat raya ini, apakah pangkal, kekayaan, harta dan sebagainya, bukanlah milik kita. Sungguh indah kalau kita kenang makna hakikat hidup dan arti mati. Karena hanya inilah yang menjadi pokok cerita dihari ini Idul Fitri dan kapan juapun bagi manusia. Itulah sebabnya led disebutkan sebagai hari persinggahan para musafir dalam menempuh perjalanan yang tak mampu mencerna batas tepinya.

Barangkali manusia dapat bercerita tentang ladang dunianya dan jenisnya sendiri mungkin ia berkata indah, atau jelek, baik atau jahat. Masing-¬masing berpulang pada tanggapan nuraninya. Idul Fitri menampakkan perpaduan antara lain spiritual dan Ibadah dengan suasana suka cita, gembira serta kemewahan. Tak ubahnya cerah ceria, karena berhasil menunaikan tugas agamanya dibulan Ramadan, dengan tumpuan harapan amal kebajikan benar benar, Imanan Wahtisaban dan tentunya setiap muslim serta merta tahmid dimana saja mereka berada, kecuali tempat yang dipandang hina.

Agaknya semakin lengkaplah ibadah kita, apabila muslim melaksanakan ibadah puasa, tarwih serta amalan terpuji lainnya, kemudian menunaikan zakat. Dalam surat Al Baqarah ayat 43 disebutkan yang artinya:

“Dan dirikanlah shalat dan keluarkanlah zakat, dan tundukkanlah beserta orang orang yang tunduk”

Memang ibadah shalat menjauhkan dari perbuatan sesat dan mungkar, puasa memang menjadi humanis yang penuh taqwa. Shalat dan zakat selalu dikaitkan untuk menempa keimanan seseorang. Sebab belum sempurna iman seseorang kalau hanya melihat dari aspek kepentingan dirinva saja. hidup bermasyarakat maka sudah sewajarnya selain hubungan dengan AI Khaliq, juga hubungan sesama manusia dan alam semesta harus ada korelasi dan interaksi yang positif selama puasa kita dituntun untuk lebih asih, terutama kepada yang lemah fakir miskin dan papa.

Alangkah bahagianya kalau kita tergolong berkecukupan yang mampu memberikan memberikan sebagian rezeki Allah kepada mereka yang membutuhkan dihari Lebaran mulia ini. Dalam suatu hadist yang berbunyi:

“Semua makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi sesama”

Zakat mampu menjembatani jurang pemisah antara yang mampu dan yang kurang mampu. Esensi Idul Fitri memiliki nilai spiritual tinggi, menempatkan manusia makhluk religius, mahluk sosial dan makhluk termulia

Berpangkal dari unsur fitrah manusia, ia memiliki jenis dan martabat kemanusiaan. Dan bagi kita umat Islam, taqwa kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan yang universal diantara umat manusia. Di hari Fitri akan lebih membajakan

jiwa keagamaan ukhuwah Islamiyah, sehingga akan menumbuh-suburkan semangat persaudaraan, kesatuan dan persatuan antara sesama anggota masyarakat, lantas memacu membangun lebih bergairah lagi. Idul Fitri merupakan titik tolak, karena merupakan kesempatan yang paling bagus untuk melakukan perbuatan yang mulia dan luhur.

“Minal aidin wal faidzin kullu amin nahnu sea iyyakurn wa auladina bikhoirin wa lutfin wa afiyah.” “Semoga Allah membukakan pintu maafNya melimpahkan taufiq clan hidayahNya panjang g umur sehat . afiat ” Amin!

DAFTAR PUSTAKA
1. Der Mensch Gezund un Krank DR. Fritz Khant
2. Ihya Ulumuddin al Ghazali
3. Uber deas Wesen and den Ursprung des Menschen
4. Shoeseki Kaneko
5. Memahami aspek ajaran Islam PROF. DR. Mukti Ali
6. Manusia dengan atoomnya DR. Paryana Suryadipura
7. The New World of Islam DR. Lord Stoddart
8. Hero is a Prophet Thomas Carlyle
9. The Law Quartely Prof Vaswani
10. New Internationale Encyclopaedic
11. Encyclopaedia Britannica
12. Ottasen’s Eenvoudige Wereld Gcschidemis .
13. DR. Kernkamf
14. DR. Alexis Carrel

Sumber: Metafisika Puasa oleh: KH Bahaudin Mudhary

Posted in: Artikel Tasawuf