Delapan Efek Maksiat

Posted on Juli 17, 2010

0


—-Oleh Yanuardi Syukur

(Staf bidang editorial dan jaringan informasi

Pesantren Darul Istiqamah Maros Sulsel)——

TIAP KITA pasti pernah berbuat dosa apakah yang disadari atau yang tidak kita sadari. Dosa yang kita lakukan pun kemudian memberikan bekas kepada hati dan kehidupan kita. secara sadar atau tidak, hati kita menjadi tidak tenang dan kesulitan demi kesulitan sepertinya selalu datang dan pergi.

Sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk selalu berbenah, memperbaharui iman kita agar tidak terus menerus terjebak dalam dosa. Kita berdoa kepada Allah semoga kita semua dijaga dari dosa, dan mendapatkan pengampunan saat kita melakukan dosa.

Dosa yang kita lakukan pasti akan mengakibatkan efek pada sisi lain dari kehidupan kita. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, jika kita bermaksiat maka akan mengakibatkan delapan hal.

Pertama, menghalangi ilmu. Ilmu, begitu tulis ulama yang juga murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah itu, adalah sinar yang diletakkan Allah di hati, sedangkan maksiat memadamkan sinar tersebut. Imam Syafi’i pernah mengeluhkan kepada gurunya betapa susahnya beliau dalam menghafal. Gurunya, Waki’ menasehatinya untuk meninggalkan maksiat. “Ketahuilah bahwa ilmu itu anugerah dan anugerah Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat,” begitu kata sang guru.

Kedua, menghalangi rezeki. Jika kita bertakwa kepada Allah, maka Allah membuka pintu rahmat-Nya kepada kita. Sedangkan jika kita bermaksiat, maka kita akan mendapatkan penghidupan yang sempit. Dalam kitab Musnad disebutkan, “Sesungguhnya seorang hamba tidak mendapatkan rezeki karena dosa yang dikerjakannya.”

Ketiga, menimbulkan kerisauan dan kesepian dalam hati. Tiap kita pasti tidak ingin menjadi pribadi yang selalu risau dan kesepian. Kemaksiatan membuat kita selalu waswas—itu karena kita telah terbius oleh biusan setan yang merasuk dalam hati. Semakin sepi kita semakin menjauh kita dari majelis pengajian, semakin jauh hati kita dari ayat-ayat Allah Swt. Maksiat membuat kita risau selalu dan hati yang sepi dan gersang seperti gersangnya padang sahara.

Keempat, mendatangkan kesulitan. Orang yang maksiat akan sulit hidupnya. Maukah kita mendapatkan kehidupan yang sulit? Tentu tidak! Kesulitan dalam hidup akan membawa kita pada stress dan stress akan membawa kita pada ketidakseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Kelima, menimbulkan kegelapan dalam hati. Kegelapan dalam hati, kata Imam Ibnu Qayyim akan dirasakan seseorang seperti gelapnya malam. Bila ia diberi petunjuk, kegelapan maksiatnya masuk menutupi hatinya, seperti perasaan menutupi penglihatannya. Setiap kali kegelapan menimpa kita, kita pun akan kebingungan, akhirnya dengan terbang bebaslah kita melakukan bid’ah dan dosa.

Abdullah bin Abbas berkata, “Sesungguhnya untuk kebaikan ada cahaya pada wajah, sinar pada hati, kelapangan pada rezeki, kekuatan pada badan, dan kecintaan dari hati banyak orang terhadap dirinya. Adapun perbuatan buruk menimbulkan warna hitam pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, kekurangan pada rezeki, dan rasa benci kepadanya di hati banyak orang.”

Keenam, melemahkan hati dan badan. Kemaksiatan akan mempengaruhi hati dan badan kita. Seorang pelaku maksiat, walau badannya kuat dia akan terlihat lemah. Itu karena hatinya yang kotor diselimuti dosa. Dalam peperangan kita saksikan betapa yang menentukan menang tidaknya pasukan bukanlah karena faktor badan yang kuat semata, akan tetapi tergantung pada seberapa besar kekuatan iman di dalam dada. Pasukan Islam yang sedikit begitu sering mengalahkan pasukan kaum kafir yang berlipat-lipat, itu karena faktor iman dan jauh dari kemaksiatan.

Ketujuh, menghalangi ketaatan. Seorang pendosa akan tidak taat kepada Allah. Ibnu Qayyim mentamsilkannya dengan seorang laki-laki yang makan suatu makanan yang mendatangkan penyakit yang akhirnya mencegahnya dari berbagai macam makanan yang enak dan baik. Lihatlah pelaku maksiat! Dia selalu jauh dari sinar taat.

Kedelapan, mengurangi umur dan mengikis berkah. Kebaikan akan menambah umur, sedangkan kejahatan akan mengurangi umur. Ini memang menjadi ikhtilaf para ulama. Menurut Ibnu Qayyim, mengurangi umur karena hilangnya berkah. Jadi, karena berkahnya hilang, maka lambat laun ajal pun begitu cepat menjemputnya.

Ulama yang lain mengatakan bahwa bertambah atau berkurangnya umur tidak disebabkan karena suatu sebab. Mereka mengatakan, rezeki dan ajal, bahagia dan sengsara, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, merupakan ketentuan dari Allah saja.

Menurut Ibnu Qayyim dalam bukunya Ad-Da’u Wad Dawa’ (diterjemahkan oleh Qisthi Press dengan Terapi Penyakit Hati) mengatakan bahwa umur produktif manusia adalah umur yang digunakannya untuk kebaikan dan takwa kepada Allah. Selain itu, bukanlah umur produktifnya. Jadi, jika seseorang hanya sibuk dengan kemaksiatannya, maka hilanglah hari-hari hidupnya yang hakiki. Akhirnya mereka pun menyesal dan berkata dengan perkataan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Aduhai, sekiranya dulu aku berbuat baik untuk hidupku sekarang ini.” (QS. Al-Fajr: 24).

Delapan akibat dari maksiat ini penting sekali untuk kita tafakkuri bersama. Betapa sering dalam hari-hari kita terjangkiti oleh virus maksiat. Di rumah dijangkiti dengan virus maksiat televisi, betapa banyak sinetron dan gosip maksiat yang disuguhkan kepada kita. Keluar rumah, seorang lelaki dijangkiti dengan melihat aurat yang tidak halal baginya. Di kantor, kampus dan pasar kita disuguhi dengan kemaksiatan yang senantiasa ada.

Kita ingin menjauh, tapi balatentara maksiat itu selalu datang menerjang. Kita pun mencoba menggunakan ‘tameng’ jaga diri, tapi terkadang iman kita lebih lemah ketimbang ‘iman’ balatentara setan. Segala yang kita lakukan dengan kekuatan diri sendiri pun terlihat begitu lemah di hadapan maksiat. Kita akan bisa bertahan, hanya dan hanya jika kita berusaha sekuat tenaga untuk iffah (menjaga diri) sekaligus meminta bantuan dari Allah Swt agar senantiasa menjaga kita dari dosa-dosa maksiat. Semoga Allah menjaga kita semua dari kemaksiatan dan mengampuni dosa kita yang secara sadar atau tidak pernah kita lakukan. ***

Posted in: Artikel Tasawuf