ZIONISME: Gerakan Kolonialisme Baru

Posted on Juni 4, 2010

0


Qosim Nursheha Dzulhadi

Apa yang membedakan Zionisme dari gerakan kolonial lainnya adalah hubungan antara para penghuni tetap dan orang-orang yang menaklukkan. Tujuan yang diakui terus-terang atas gerakan pendudukan Zionisme tidaklah melulu untuk memanfaatkan orang-orang Palestina, akan tetapi untuk membubarkan dan merampas mereka. Maksud untuk menggantikan populasi pribumi dengan suatu masyarakat penetap baru, untuk membasmi petani, tukang batu, dan penduduk-kota Palestina dan mengganti suatu tenaga kerjabaru sama sekali terdiri atas populasi penghuni tetap. 2

فقد أصبح من الثابت أن المخطط الصهيونـــى لا يستهدف الأرض الفلسطينية فحسب أو حـــتى الشعب الفلسطينى فحسب, وإنما تمتـــد أطماعه لتصل إلى لبنان والأردن ومصـــر, وإلى أى مدى يمكن لقوته الذاتية أن توصله إليه. 3
Mukaddimah
Realitas Zionisme-Israel sejatinya punya sejarah panjang dan ‘berdarah-darah’. Fakta ini dapat dirunut sejarahnya ke belakang, ke lembaran Bible. Di dalamnya diceritakan bahwa “perang” memang hobby kaum Israel sejak dahulu. Misalnya, dapat direkam di sini, laporan Kitab Ulangan: “20:10 Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. 20:11 Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. 20:12 Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; 20:13 dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. 20:14 Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. 20:15 Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini.” 4

Selain itu, Israel juga memiliki mitos ‘Tanah Perjanjian’ atau ‘Tanah yang Dijanjikan (The Promised Land, Arab: Ardh al-Maw‘id). Mitos pun juga murni Biblical, “ 20:16 Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apa pun yang bernafas, 20:17 melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu 5, 20:18 supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada TUHAN, Allahmu.” Karena mereka memang punya keyakinan sebagai The Chosen People (al-Sya‘b al-Mukhtâr). Sehingga mereka disebut oleh Tuhan mereka sebagai bangsa yang “suci” (sya‘b muqaddas). Ini juga sangat Biblical, “7:6 Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. 7:7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa mana pun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu — bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? — 7:8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 7:9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 7:10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. 7:11 Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan.” 7:12 “Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 7:13 Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. 7:14 Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. 7:15 TUHAN akan menjauhkan segala penyakit dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau. 7:16 Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka dan janganlah beribadah kepada allah mereka, sebab hal itu akan menjadi jerat bagimu.” 6

Dengan begitu, mereka boleh membantai siapa saja. Dan mereka boleh menguasai negara Palestina, bahkan negara lainnya (seperti Lebanon, Yordania dan Mesir) secara paksa. Karena itu adalah tanah yang dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka. Bahkan tidak hanya Bible, Talmud mereka pun menggambarkan Tuhan yang berwajah “fanatik” terhadap bangsa-Nya yang terpilih. Oleh karenanya, Talmud menggambarkan Tuhanya yang menyesal ketika meninggalkan Yahudi dalam keadaan menderita, sampa akhirnya ditampar dan menangis. 7

Nah, untuk meluluskan maksud mereka itu, terbentukan satu paham keagamaan yang –nantinya—berubah menjadi isu politik, yaitu Zionisme. Dan salah satu isu politik yang –nantinya berhasil—terus diusung adalah membentuk “Negara Yahudi”. Dimana Yahudi ingin melepaskan diri pengaruh Khilafah ‘Utsmaniyah. 8

I. Zionisme: Dari Isu Agama ke Politik
Zionisme berasal dari kata Ibrani, “zion” yang artinya karang. Maksudnya, merujuk batu bangunan Haykal Sulaman yang didirikan di atas sebuah bukit karang bernama “Zion”, terletak di sebelah barat-daya Al-Quds (Jerusalem). Bukit Zion ini menempati kedudukan penting dalam agama Yahudi, karena menurut Taurat, “Al-Masih yang dijanjikan akan menuntun kaum Yahudi memasuki ‘Tanah yang Dijanjikan’. Dan Al-Masih akan memerintah dari atas puncak bukit Zion”. Zion dikemudian hari diidentikkan dengan kota suci Jerusalem itu sendiri.

Zionisme, kini tak lagi hanya memiliki makna keagamaan, tetapi kemudian telah beralih kepada makna politik, yaitu suatu gerakan pulangnya ‘diaspora’ (terbuangnya) kaum Yahudi yang tersebar di seluruh dunia untuk kembali bersatu sebagai sebuah bangsa dengan Palestina sebagai tanah-air bangsa Yahudi dengan Jerusalem sebagai ibukota negaranya. Istilah Zionisme dalam makna politik itu dicetuskan oleh Nathan Bernbaum, dan Zionisme Internasional yang pertama berdiri di New York pada tanggal 1 Mei 1776, dua bulan sebelum kemerdekaan Amerika Serikat dideklarasikan di Philadelphia.9 Karena memang, gerakan Zionisme menolak Judaisme (al-Yahudiyyah) sebagai “agama” 10. Walaupun memang ada perdebatan serius antara Yahudi Liberal (Liberal Judaism) dan Yahudi Konservatif (Conservative Judaism) dalam menentukan Israel. Menurut Yahudi Liberal, Israel berada dalam lingkaran bangsa-bangsa. Dimana semua bangsa tersebut dianggap sebagai satu persaudaraan keagamaan (a religious brotherhood), dimana Judaism dianggap sebagai agamanya 11. Sementara itu, Yahudi konservatif menganggap Israel sebagai satu bangsa. Dan kelompok ini berjuang untuk mengembalikan Israel sebagai satu bangsa ( a nation). 12

Untuk mendukung gerakan Zionisme ini, para pendukungnya melakukan berbagai propaganda dan terobosan untuk mengembalikan Chibbath Zion (love of zion). maka gerakan Chibbath Zion ini melahirkan satu simpati yang disebut dengan emancipation. Propaganda ini pertama kali datang dari Barat (West), yang menemukan Yahudi begitu sakit (very ill) dalam menerim hal ini. Gerakan ini juga akhirnya gagal. 13

Untuk gagasan ini, Moses sangat terkenal menjadi think-thank-nya. Moses Hess, seorang Yahudi Jerman, melemparkan gagasan pertamanya bahwa untuk menguasai Palestina, maka Yahudi harus menggandeng orang-orang Barat yang memiliki kepentingan yang sama untuk kembali ke Palestina setelah kekalahan yang memalukan atas kaum Saracen yang dimpimpin Salahuddin Al-Ayyubi beberapa abad lalu. 14

(Bersambung….)

Footnote :
01. Disampaikan dalam “Ngobrol Bareng” dengan teman-teman fakultas Ushuluddin, ISID, Selasa, 3 Februaru 2009, di Gedung Ibnu Sina.
Anggota Program Kaderisasi Ulama (PKU) dari Medan. Orang yang sangat benci Zionisme.
02. Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, edisi Indonesia: Sejarah Zionisme yang Tersembunyi, terjemah: Joko S Kahhar, (Sajadah Press, 2007), hlm. 5.
03. Dr. ‘Abd al-Wahhab Muhammad al-Massiri, Al-Aydiyulujiyyah al-Shahyuniyyah: Dirasah Halah fi ‘Ilm Ijtima‘ al-Ma‘rifah, (Kuwait: al-Majlis al-Wathani li al-Tsaqafah wa al-Funun wa al-Adab, 1982), hlm. 5.
04. Kitab Ulangan 20: 10-15.
05. Kitab Ulangan 20: 16-18.
06. Kitab Ulangan 7: 6-16. Sistemisasi klaim-klaim Zionisme-Yahudi-Israel ini penulis kutip dari Roger Garaudy, Muhakamat al-Shahyuniyyah al-Isra’iliyyah, di-Arabkan oleh: ‘Adil al-Ma‘lam, (Cairo: Dar al-Syuruq, cet. III, 2002), hlm. 5-7. Lihat juga, Dr. ‘Abd al-Wahhab Muhammad al-Massiri, al-Brutukulat wa al-Yahudiyyah wa al-Shahyuniyyah, (Cairo: Dar al-Syuruq, cet. III, 2003), hlm. 47-48.
07. Dr. ‘Abd al-Wahhab Muhammad al-Massiri, al-Brutukulat, hlm. 49.
08. Ini, misalnya, dikemukakan sendiri oleh pendiri Negara Yahudi, Theodor Herzel, pada tahun 1896 ketika mengajukan rencana permanennya guna memengaruhi kerajaan Ottoman untuk mewariskan Palestina kepada gerakan pendukung Zionisme: “Perkiraan Yang Mulia Sultan akan memberi kita Palestina: kita bisa, sebagai alasan, melakukan untuk mengatur alat-alat pembayaran atas Turki. Kita seharusnya ada bentuk suatu pos terdepan peradaban sebagai lawan dari barbarisme.” Lihat, Ralph Schoenman, The Hidden History of Zionism, hlm. 9-10.
09. Z. A. Maulani, Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia, (Jakarta: Daseta, 2002), hlm. 1-2. Gagasan mendirikan Negara Yahudi di Palestina kemudian mendapat dukungan dari Napoleon Bonaparte ketika ia merebut dan menduduki Mesir. Untuk memperoleh bantuan keuangan dari Yahudi, Napoleon pada tanggal 20 April 1799 mengambil hati dengan menyerukan, “Wahai kaum Yahudi, mari membangun kembali kota Jerusalem lama.” Sejak itu, gerakan untuk kembali ke Jerusalem menjadi marak dan meluas. Adalah Yahuda al-Kalai (1798-1878), tokoh Yahudi pertama yang melemparkan gagasan untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina. Gagasan itu didukung oleh Izvi Hirsch Kalischer (1795-1874) melalui bukunya yang ditulis dalam bahasa Ibrani ‘Derishat Zion’ (1826), berisi studi tentang kemungkinan mendirikan sebuah negara Yahudi di Palestina. Buku itu disusul oleh tulisan Moses Hess dalam bahasa Jerman berjudul ‘Roma und Jerusalem’ (1862), yang memuat pikiran tentang solusi “masalah Yahudi” di Eropa dengan cara mendorong migrasi orang Yahudi ke Palestina. [Ibid., hlm. 2]. Lihat juga, S. Landmand, History of Zionisme, (London: The Zionist, 4, King’s Bench Walk Temple, 1915), hlm. 4. Pendapat Hess, dapat dikutip dari pemaparan Landman di sini, “Hess explained his views in his book, Rome and Jerusalem,the latest National Question (1862.) His thesis is, first, that Jews will always remain strangers in every country in which they are permitted to live, secondly, that the Jewish type of life and outlook is indestructible, and lastly, that, if emancipation should prove irreconcilable with Jewish National feeling, the latter should be kept and the much prized emancipation sacrificed. The views of Hess fell upon deaf ears among Western Jewry for reasons already made clear. Emancipation still appeared to them a wonderful jewel for which they were prepared to barter their soul. They still dreamed that they would have a place in the brotherhood of man.”
10. Al-Massiri, al-Aydiyulujiyyah al-Shahyuniyyah, jilid 2: 5.
11. Rev. S. Levy , M.A., Zionism and Liberal Judaism, (Edinburgh-London: Ballantyne, Hanson & co, 1911), hlm. 12.
12 Ibid., hlm. 13.
13. Landmand, History of Zionism, hlm. 2.
14. Rizki Ridyasmara, Knights Templar Knights of Christ: Konspirasi Berbahaya Biarawan Sion Menjelang Armagedon, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. II, 2008), hlm. 241.

Posted in: HIKAYAT