Fatwa yang ceroboh…

Posted on Mei 23, 2010

0


by.Achmad reza fahlevi
Sungguh luar biasa,saya mendengar MUI memutuskan tentang halalnya minuman keras sampai meprosentasekan nilai sebuah keharaman..itu dulu..ga tau sekarang mah..
Jenis minuman ini yang prosentase nya sekian haram…..minuman keras ini yang nilai prosentasenya kurang dari sekian persen halal.bagai petir di siang bolong saya mendengar fatwa yang ceroboh ini…saya meragukan tentang konsep arrosikhuuuna pada lembaga MUI kita..artinya orang2 yang mendalam pengetahuan agamanya.luar biasa..mulut saya berdecap kagum sambil mencibir..he..he..bolehkan? pasti ga boleh..
di ma’fu aja deh,namanya juga manusia mempunya kekeliruan(kata teman saya di FB).Tapi ga boleh juga dong kalo kekeliruannya di muntahkan untuk sosial.ini bicara tentang hajat orang banyak,bicara tentang hukum yang di pakai untuk seluruh muslim di indonesia.
Kita semua tau deh yang namanya al-kohol/minuman keras atau mirasantika,dll deh judulnya itu kan haram kata guru ngaji saya.
“Sedikit maupun banyak yang namanya minuman keras adalah haram”.jangankan satu botol atau dua botol satu tetespun yang namanya minuman keras itu haram hukumnya.
Orang yang meminumnya tetap aja mendapat dosa.kata temen saya,(temen di FB)kalo minum alkohol/mirasantika itu dosa besar atau dosa kecil?saya jawab ,yang namanya dosa itu
walaupun di klasifikasikan ada dosa besar dan kecil namanya juga tetep dosa.di ampuni atau tidak namanya tetep dosa.iya ga?setuju..???(yeeee cari dukungan ni yeeee..he..he..).
Walhasil,…keputusan tanpa woro-woro ini(paham ga woro-woro?..woro-woro=pengumuman secara detail) membuat orang-orang gemar meminum minuman keras,dengan berbagai alasan .ada yang alasannya buat jamu-lah,ada yang alasannya-
buat kesehatanlah,dsb.Sebuah fatwa hukum menjadi sebuah fatwa kecerobohan.Mungkin yang di maksud MUI adalah tentang bolehnya menggunakan ,bukan meminumnya yang sekian kurang dari prosentase..bla…bla…bla…
Al-kohol di gunakan untuk obat luar,bukan untuk di minumnya mungkin boleh (mungkin lho…maklum penulis bukan dewan fatwa MUI).
Sedikit saya berfikir..(ini mulai serius nih..)Kalau fatwa yang di keluarkan oleh MUI itu salah atau keliru..ga dapat saya bayangkan..ternyata akan muncul dosa kolektif (bukan arisan doang lho kolektif.he…he…).
Sebenar nya ini bukan masalah rumit,dan juga bukan masalah muskilat,seperti hal nya yang di tanyakan rosul ke pada sahabat muadz bin jamal ketika pergi ke negeri Yaman yang dia katakan terkhir memutuskan sebuah perkara setelah dua landasan di pakai
kemudian tiada terdapat sebuah jawaban beliau/muada bin jabal mengatakan “fabi ro’yi atau dengan argument saya.
Pada akhirnya saya ga mo berkomentar bla…bla…bla…atas fatwa MUI ini…
Cuma bisa berharap,anggota majlis MUI kedepannya di isi oleh orang-orang yang arrosikhuuna bil’ilmi.amiiin.
Posted in: Artikel Tasawuf