MEMBENTUK PRIBADI MUSLIM

Posted on Mei 21, 2010

0


   By.Achmad Reza Fahlevi  

Garis  kehidupan ummat islam,ialah labuh yang mesti di tempuh,jalan yang harus di lalui,menuju arah kehidupan yang pasti.Di saat manusia lupa kan tujuan hidupnya,di saat itu pulalah kabur jalan hidupnya,dan akan putus pulalah garis kehidupannya dalam semesta ini.
Relung hati manusia sadar dengan kehadiran sang pencipta alam semesta ini,bahwa  sebuah keharusan yang tidak boleh di tawar-tawar oleh hati dan pikiran kita untuk masuk kepada dunia lain yaitu bahwasanya penciptaan manusia untuk berbakti dan menyembah Allah swt.Di manakah kita saat-saat kita harus menumpahkan isi hati kita,keruwetan kita segala problematika yang kita hadapi di dunia ini yang mesti harus kita tumpahkan ?Di manakah kita ketika saat genting dan saat penting kita harus mengadukan semuanya?jawabannya adalah “iyyakana’budu  wa isya kanasta’iiin.(hanya kepada mu ,ya allah saya menyembah dan berbakti dan hanya kepada mu ya allah kami meminta pertolongan.inilah  fundamentalis yang harus kita terapkan dalam kepribadian kita.kita menjunjung  bahwasanya tiada tuhan selain alloh,tiada yang memberikan kita pertolongan kecuali hanya allah,tiada tempat kita mengadu kecuali hanya kepada Allah.Pribadi yang mengacu peniadaan ilah-ilah/tuhan-tuhan kecuali  Allah swt ,adalah kepribadian yang paripurna dan sempurna  sebagai seorang muslim/orang yang beragama  islam.Noda dan dosa yang manakah yang harus kita tambal dengan kalimat istighfar,kerancuan hidup yang manakah yang mesti kita tutup dengan kalimat la haul walaa quwwata illabillahil ‘aliyyil aziem.
Manusia tidak di perintah kecuali supaya menyembah dan berbakti kepada  Allah swt semata,dengan hati yang suci  dan berlaku hanif,mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat.Itulah agama yang hidup tegak dengan lurusnya”.
Dalam pelajaran tauhid ditegaskan bahwa  hidup dan mati kita untuk Allah semata.Tidak hanya sampai di situ,tiap-tiap kelakuan /perbuatan kita,hendaknya menjadi persembahan kita kepada Allah swt.KARENA ALLAH,DENGAN ALLAH DAN UNTUK ALLAH.
Berhadapan dengan kewajiban  dan memenuhi panggilan Allah set,tersingkir  keluar semua kepentingan  sendiri,lenyap diri pribadi,lepas dari mencari keuntungan  dan laba .Diri sendiri lenyap dan hilang,diri sendiri tidak penting berhadapan dengan Allah swt.
Kita harus yakin dan percaya,bahwa kita hidup adaalah karena Allah memberi kita hidup.Dan tak ada satu kekuatan pun yang dapat mematikan kita kecuali Allah swt.betapapun juga berhadapan dengan Allah ,lenyaplah diri kita.Karena Allah maha besar,maha kuasa dan maha bijaksana.Itulah sebabnya,maka batin kita,jiwa kita,semangat kita,ruh kita,sukma kita,merendah serendah-rendahnya berhadapan dengan Allah.Lenyap selenyap lenyapnya,karena yang berhak ada terus senantiasa,kekal dan abadi,hanyalah Allah swt semata-mata.
Itulah jiwa umat tauhid,jiwa yang penuh dengan filsafat ketuhanan.Jiwa yang bulat bersandar kepada kekuasaan Allah swt .Jiwa yang merdeka dari penghambaan alam,jiwa yang tidak tertawan oleh alam syahadat ini.Jiwa yang tidak di hinggapi penyakit syirik,penyakit yang melumpuhkan jalan hidup manusia dalam menuju keridloan  Allah swt.Jiwa yang yang hanya kenal satu kekuasaan  dan kekuatan besar,ialah robbul’alamiiin.Tempat menggantungkan harapan ,tempat memulangkan segala perkara.Inilah sebenarnya rahasia akhir firman Allah swt:13:”Janganlah kamu termasuk golongan musyrikin”.
Kaum musrikiin,menyembah dan berbakti kepada dan untuk selain Allah swt.Alangkah rugi dan malangnya manusia,dia bekerja dan berjuang,beramal dan berjihad,tampaknya untuk kepentingan Agama Allah,berdalil dan berhadists,tetapi niat yang di kandungnya hanyalah untuk kepentingan dirinya sendiri.Qur’an hadists di jualnya  dengan harga sedikit,sebagaimana yang di sindirkan dalam surat Al-Baqarah.Islam di pakai sebagai alat untuk kepentingan diri sendiri.Ia berjuang bukan untuk Allah swt,melainkan untuk nafsunya sendiri:
“Apakah kamu tidak lihat dan ketahui orang yang mengambil hawa nafsunya akan jadi tuhannya,sehingga sampai Allah menyesatkannya dengan ilmunya dan menutup akan pendengarannya dan hatinya,dan menjadikannya satu hambatan yang menutupi akan penglihatannya.Maka di waktu itu,siapakah  yang kuasa memberi petunjuk kepadanya selain Allah swt?Mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?????”.(Al-Jasiyah:23).
Kalau dalam satu bangsa dan satu umat ,hawa nafsu telahberkuasa ,hawa nafsu telah menjadi kemudi dan pedoman,maka rusak binasalah peradaban masyarakat ummat ini.Berkuasanya  hawa nafsu ini di dalam diri manusia,maka berarti terbukanya pintu gerbang  kemusyrikan dengan selebar-lebarnya.
Oleh karena itu, manusia muslim seutuhnya yaitu yang mempunyai kepriibadian  berlandaskan tuntunan ilahi,akan jaya dan bahagia,tak akan hina dan sengsara di manapun mereka berada,karena hubungannya dengan al-khaliq maupun makhluk akan terbina dengan kokoh dan kuat.”mereka diliputi kehinaan dimana saja,kecuali jika mereka berpegang teguh dengan tali agama Allah dan tali hubungan dengan manusia”.
Posted in: Artikel Tasawuf