khitbah

Posted on Juli 6, 2010

0


by.Imroa Solihah
khitbah
Ada seorang ikhwan dan akhwat yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Seorang ikhwan itu berkeinginan hendak untuk mengenal seorang akhwat yang solehah tersebut lebih dekat.
Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang ikhwan sendiri, harus maju menghadapi ayah sang akhwat. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya.
Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang
sekarang amatlah berbeda. Sang akhwat tentu saja siap membantunya untuk memuluskan langkah mereka dalam rangka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah sederhana, di sebuah ruang tamu yang cukup usang, seorang ikhwan muda menghadapi ayah sang akhwat yang sudah setengah baya, untuk ‘merebut’ sang akhwat cantik nan solehah, dari sisinya.
“Oh, jadi kamu ta nak yang akan melamar putriku?” tanya sang ayah.
“Iya, Pak,” jawab pemuda itu.
“kamu sudah telah mengenalnya dalam-dalam? ”tanya sang ayah sambil menunjuk putrinya.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab pemuda itu, mencoba untuk meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak!!.. Berarti kamu telah memacari putriku sebelumnya? Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang ayah.
pemuda itu tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru
sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya, karena kamu tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang ayah dengan keras dan tegas.
Suasana khitbah semakin sulit dan runyam. Sang putri ayahnya itu mencoba membantu sang
pemuda.
Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang ayah kepada pemuda itu. “Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti narkOba di Kampus,” jawab sang pemuda, dengan percaya diri.
“Lamaranmu kutolak!!.. Nanti jika kamu lagi kecewa dan marah sama
istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo
rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak
yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.” Jawab pemuda itu membenarkan.
“Lamaranmu kutolak!!.. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu?”

putrinya membisik lagi ketelinga sang ayah, : “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah
satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM
ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma kok Pak.”
“Lha lamaranmu ya kutolak!!.. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik
anak-anakmu kelak?”
Bisikan dari sang putri itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera
jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu
nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”
“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”

“Lamaranmu tetap kutolak!!.. Lha kamu mau kasih makan apa anak istrimu nanti ,kalau kerja saja nggak becus begitu?”
Lagi-lagi ada Bisikan dari putrinya, “Ayah,,, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Kami sudah punya banyak.
Maaf.” “Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.”

“Lamaranmu kutolak!!.. Kau pikir aku itu matre??.. dan menukar putriku dengan
uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”
putrinya kembali membisiki sang ayah, “Dia jago IT lho Pak” “Kamu bisa apa itu,.. internet?” “Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya
nge-net.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek email saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Jadi kamu nggak ngerti tu yang namanya Facebook, Blog, Twitter, and Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek kayak kamu .”
Lagi-lagi sang putri membisiki sang ayah, “Tapi Ayah…dia kesini bawa mobil loh..”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Mercy Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya
Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”

“Lamaranmu kutolak!!.. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini
namanya payah. Kau kira putriku ini supir apa?”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak!!.. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang
cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir
kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak!!.. Kamu berpotensi jadi anak playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

putri sang ayah kini matanya berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan
soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang ayah menatap wajah sang putri semata wayangnya, dan berganti menatap sang pemuda yang sudah menyerah dan pasrah.
“Nak, adakah yang telah kamu hafal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Pemuda itu kini telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, lalu ia menjawab: “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang ayah tersenyum, seraya berkata: “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu
cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja
pun, aku masih tertatih-tatih.” Mata sang pemuda itu kini ikut berkaca-kaca karna saking terharunya.

(bukankah semua akan indah jika berakhir dengan happy ending? (Plisss…deh ah……….:-)

About these ads
Posted in: Artikel Hiburan