SUFI VS KEJAWEN

Posted on Mei 6, 2010

0


Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat. Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah (syariat atau sembahyang raga). Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa (tarekat atau sembahyang cipta). Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina (hakikat atau sembahyang jiwa). Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah (makrifat atau sembahyang rasa).

KITA BISA MAKLUMI DALAM TATA APLIKASI NORMATIF,kalau salik atau pelaksana sufi memilki kesamaan dengan salik para praktisi kejawen( belum final).
Para praktisi kejawen membuat sebuah kesamaan dengan dalam hal shalat contohnya,mereka mengatakan:Menurut ajaran kejawen terdapat 4 macam tata cara sembahyang yaitu sembahyang raga, sembahyang cipta (kalbu), sembahyang jiwa dan sembahyang rasa dalam hal ini sebenarnya berkaitan dengan kata2 yang bagi para pemeluk sufi atau tasawuf adalah syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Suluk berasal dari bahasa Arab, Salaka yang artinya ‘berjalan”. sedang ‘orangnya’ disebut “salik”. Suluk adalah ‘berjalan” untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, kalau sudah dekat akhirnya manusia akan ‘bersatu’ dengan Tuhan.
Dan sembahyang menurut kejawen,
Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya, sembahyang raga atau syariat lebih menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan sembahyang kalbu atau tarekat lebih menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembahyang jiwa atau hakikat lebih menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah. Lalu sembahyang rasa atau makrifat merupakan sembhyang tanpa ada perasaan lain hanya perasaan tuhan meresap dalam dirinya sembahyang rasa atau makrifat ini merupakan akhir dari semua sembahyang sehingga bisa juga disebut sembahyang tanpa sembahyang
Sembahyang Raga
Sembahyang raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Orang2 islam menyebutnya dengan shalat. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembahyang ini demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat, tekun dan terus menerus. Sembahyang raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan bertapa (sembahyang raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembahyang ini didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih). Sembahyang raga menurut ajaran sufi atau tasawuf disebut juga Syariat, atau hukum yang harus dilakukan ketika kita masih memiliki raga sebab karena dengan raga itulah alam ini diatur. Karena itu yang berlaku umum sembahyang raga menurut agama islam adalah 5 kali sehari atau dengan kata lain bahwa untuk menunaikan sembahyang ini telah ditetapkan waktu-waktunya 5 kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembahyang atau shalat lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton) jika salah satu saja lubang tanpa ada kejelasan atau males maka akan mendapatkan dosa.

Sembahyang raga ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup sebab adab, cara, serta hukumnya jelas tertulis. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembahyang itu tidak sah. Sembahyang raga meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi. Nah jadi sembahyang raga adalah suatu sembahyang yang masih menggunakan waktu dan jelas rukun, adab serta hukumnya sehingga berlaku umum sebab jika tidak berlaku umum maka yang terjadi adalah ketidakteraturan dalam dunia sebab dunia ini ada dan diatur karena terdapatnya raga manusia

Sembahyang Cipta (Kalbu)

Sembahyang ini kadang-kadang disebut sembahyang cipta dan kadang-kadang disebut sembahyang kalbu. maka sembahyang cipta di sini mengandung arti sembahyang kalbu atau sembahyang hati, bukan sembah yanggagasan atau angan-angan. Dalam ajaran sufi atau tasawuf sembahyang ini disebut juga sembahyang tarekat. Nah Apabila sembahyang raga atau syariat menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembahyang cipta (kalbu) atau disebut juga tarekat ini lebih menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).
Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat. Pertama, membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah (syariat atau sembahyang raga). Kedua, membersihkan anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa (tarekat atau sembahyang cipta). Ketiga, membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina (hakikat atau sembahyang jiwa). Keempat, membersihkan hati nurani dari apa yang selain Allah (makrifat atau sembahyang rasa). Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk lahiriah atau syariat berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya mudah cukup dibasuh saja dengan air. Sedangkan kotoran yang kedua setingkat lebih sulit daripada yang syariat atau sembahyang raga yaitu dibersihkan dan dibasuh tanpa air lalu bagaimana caranya???? caranya dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.

Sembahyang Jiwa

Sembahyang jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma (Allah) dengan mengutamakan peran jiwa meurut ilmu tasawuf dan para sufi sembahyang jiwa disebut juga hakikat. Jika sembahyang cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembahyang jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al ruh. Sembahyang jiwa atau hakikat ini hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan dengan tekun secara terus-menerus, Dalam rangkaian ajaran sembahyang dalam ajaran kejawen menurut Mangkunegara IV sembahyang jiwa atau hakikat ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalann hidup batiniah.

Cara bersucinya tidak seperti pada sembahyang raga atau syariat dengan air wudlu atau mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu atau tarekat dengan menundukkan hawa nafsu, tetapi cara bersuci sembahyang jiwa adalah dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam baka/langgeng), alam Ilahi. Berbeda dengan sembahyang raga (syariat) dan sembah kalbu (tarekat), ditinjau dari segi perjalanan suluk, sembahyang raga (syariat) ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembahyang kalbu (tarekat) adalah tingkat lanjutan. Pelaksanaan sembahyang jiwa atau hakikat ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu, hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut: “Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam kono.”

Sembahyang Rasa

Sembahyang rasa atau makrifat ini berlainan dengan sembahyang raga (syariat), sembahyang kalbu (tarekat) dan sembahyang jiwa (hakikat). Sembahyang rasa (makrifat) lebih didasarkan kepada rasa cemas. Sembahyang rasa atau makrifat ini ialah sembahyang yang dihayati dengan merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut Mangkunegara IV. Jika sembahyang kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau hati seperti disebutkan sebelumnya, sembahyang jiwa berarti menyembah Tuhan dengan alat batin jiwa atau ruh, maka sembahyang rasa berarti menyembah Tuhan dengan menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga (inti ruh yang paling halus). Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya. Pelaksanaan sembahyang rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru seperti ketiga sembahyang sebelumnya, tetapi harus dilakukan sendiri dengan kekuatan batinnya Apabila sembahyang jiwa atau hakikat dipandang sebagai sembahyang pada proses pencapaian tujuan akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa atau makrifat adalah sembah yang dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembahyang yang dilakukan di tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang, tempat sembahyang rasa atau makrifat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah yangrasa. Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam melakukan sembahyang dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sembahyang rasa atau makrifat ini merupakan tahapan tiada guru tiada siapa-siapa sehingga dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik, tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam Centini bait 156. Sembahyang rasa dinyatakan Amongraga, sungguh sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat pada bait berikut: Iku luwih banget gawat neki/ ing rarasantang keneng rinasa/ tan kena ginurokake/ yeku yayi dan rampung/ eneng onengira kang ening/ sungapan ing lautan/ tanpa tepinipun/ pelayaran ing kesidan/ aneng sira dewe tan Iyan iku yayi eneng ening wardaya.
Pendapat-pendapat itu boleh saja di kemukakan ntuk menjastifikasi sebuah kesamaan,padahal sangat berbeda sekali dengan ruh ajaran islam,banyak ayat-2 yang bertentangan dengan ajaran-2 kejawen di atas. salah satunnya adalah ayat,Fas al ahla zikr in kuntum la ta’lamuuuun,yang kedua.ketika iblis di kirim ke dunia dia menmplokamirkan permusuhannya sampai akhirat nanti,sehingga menurut sebagian ahli sufi mengatakan iblis menmbuat thoriqoh di dunia ini.bentuk thoriqohnya lom di ketahui..terlepas dr penilaian saya,..bisa aja kemudian thariqoh/aliran sufi..berbentuk wajah-wajah budaya dsb.wallahu ‘allam.
Yang jelas,kemurnian ajaran sufi adalah ajaran yang di ambil dari al-qur’an dan al-hadist.

About these ads
Posted in: Artikel Tasawuf